Belajarlah, engkaupun takkan rugi

                “Belajar” kata-kata yang sangat sering saya sebut akhir-akhir ini. Menyebutkannya saja sudah membuat saya terpacu untuk lebih giat lagi. Seringkali di sekitar saya orang-orang berucap “Ah, saya ini sudah tua buat apa belajar”, “Begini saja sudahlah cukup”, “Belajar itu sangatlah susah di usia saya, tak ada waktu”, atau blablabla yang lainnya. Selalu saya tersenyum menanggapinya. Dalam batin saya langsung bergejolak, bukankah dalam kehidupan manusia dituntut untuk belajar terus menerus tiada henti.
                Definisi belajar tiap orang boleh lah berbeda, namun saya pikir satu kesepakatan untuk ini. Bahwa belajar dalam kehidupan itu tiada henti, bahkan tiap hari tiap detiknya kita terus belajar untuk bersyukur, mengabdi, dan mencintai sang penguasa jagad raya ini. Untuk itu tak heran jika ada ungkapan “janganlah masuk ke lubang yang sama dua kali”, belajarlah maka engkau tak akan berbuat kesalahan yang sama di kemudian hari.
                Teringat masa-masa menjadi MABA atau mahasiswa baru, satu dosen nyentrik dari Sumatera itu selalu memekikkan “Iqro’, iqro’” kepada mahasiswanya di tiap kali pertemuan. Satu kata itu memang yang turun untuk Rasul pertama kali. Iqro’ bisa diartikan “baca” dan saya lebih suka menggantinya dengan kata belajar. Sungguh memang benar manusia hakikatnya di kehidupan diserukan untuk terus belajar. Bukankah Tuhan akan meninggikan dan memuliakan derajat orang-orang yang berilmu, takkan sama antara orang yang berilmu dengan lainnya. Jadi tidaklah rugi orang yang selalu belajar. Dengannya kita bisa memperbaiki diri dan hidup jauh lebih baik lagi. Kita saat ini ialah hasil proses belajar kita yang  lampau dan sekarang belajarlah memperbaiki masa depan yang akan datang.

Salam belajar, salam perubahan kawan!!!!

                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia