Perbedaan Versi Sharon Creech
Perbedaan Versi Sharon Creech
Oleh Karis Rosida
Ketika tantangan Reading Challenge ODOP 6 (RCO) menantang untuk membaca buku terjemahan dari penulis luar negeri, tentu menjadi keseruan tersendiri bagi saya penikmat buku bergenre fiksi. Bermodal buku pinjaman dari Perpustakaan Nasional Bung Karno pilihan hati jatuh pada buku yang berjudul "Postcard from Switzerland" karya penulis Sharon Creech, sang peraih Newbery Medal, penghargaan buku remaja terbaik di Amerika.
Buku yang kaya akan budaya dari berbagai negara. Tentang pencarian jati diri seorang anak perempuan yang sejak kecil hidup berpindah-pindah bersama keluarganya di beberapa negara bagian Amerika. Hingga petualangan hidupnya mengantarkannya ke negara Swiss.
Membaca buku keren ini saya bagai berkeliling dunia. Bertemu dengan masing-masing tokoh dari berbagai negera dengan bahasa, kebiasaan, watak yang berbeda-beda. Pegangan tepat saat RCO juga memberikan tantangan membuat tulisan persamaan dan perbedaan tradisi atau kebiasaan antara orang Indonesia dengan negara lainnya.
Persamaan
Saya akan memulai dari persamaan terlebih dahulu. Dari buku yang bersampul menampilkan ilustrasi anak-anak remaja ini, terdapat dua kesamaan yang begitu terlihat.
Pertama, di dalam buku yang ditulis Sharon Creech sungguh kaya akan pembelajaran bahasa dari berbagai negara. Jika di Indonesia dikenal dengan beragam suku, berjajar pulau-pulau berserta keunikan bahasa dan logat atau dialek pengucapannya. Ternyata di level dunia juga seperti itu.
Dikisahkan bahwa Dinnie sebagai tokoh utama sewaktu di Swiss mempunyai teman-teman yang berbeda latar belakang negaranya. Banyak bahasa asing yang dimunculkan dengan aksen yang tak sama.
Kedua, mengenai orang tua. Sudut pandang penulis terkait orang tua Dinnie begitu jelas bahwa orang tua si tokoh utama tidak begitu terbuka dengan anak-anaknya dan juga tidak mengungkapkan perasaan sayang untuk anak mereka dengan verbal atau melalui kata-kata. Padahal seorang anak sungguh membutuhkan konfirmasi bahwa ia memang dicintai oleh orang tuanya sendiri.
Saya pikir orang tua di Indonesia juga sama kondisinya dengan orang tua Dinnie yang ada dalam imajinasi penulis. Saya ketika melakukan aksi sosial bersama komunitas selalu bertemu dengan anak-anak yang merasa sendiri di rumahnya. Mereka merasa ada sekat dan berjarak dengan orang tua mereka sendiri. Sehingga komunikasi yang ditimbulkan berjalan kaku, tidak ada kehangatan yang terjadi orang tua kepada anaknya atapun sebaliknya.
Perbedaan
Bahasa adalah perbedaan yang begitu kentara dalam buku A Postcard from Switzerland. Saya menuliskan bahasa di sini selain termasuk sebagai persamaan juga perbedaan. Latar belakang para tokoh yang berbeda akhirnya berdampak pada pola komunikasi. Tempat tinggal Dinnie di Swiss yang berbatasan langsung dengan beberapa negara yaitu Italia, Perancis, Austria, membuat tokoh-tokoh yang dituliskan harus sanggup beradaptasi dengan bahasa. Sebab di Swiss masyarakatnya dituliskan kalau menggunakan campuran bahasa dari tiga negara yang berhadapan langsung dengan wilayahnya.
Berikutnya tentang makan, tata cara makan juga disebutkan seperti tokoh bernama Keisuke yang dari Jepang lebih memilih menggunakan sumpit. Lalu kegemaran makanan, yang masing-masing tokoh berbeda sesuai dengan negara asalnya. Dinnie yang dari Amerika suka makanan cepat saji seperti hamburger, tidak suka Taco dan sederet makanan dari negara lain.
Bersifat terbuka dengan orang yang baru dengan berbeda budaya dari negara asal begitu ditonjolkan di buku ini. Penulis begitu piawai menarasikan tentang penerimaan masing-masing orang yang berbeda karakter. Terkadang di masyarakat kita Indonesia, masih belum bisa menerima segala perbedaan yang dibawa orang asing.
Blitar, 19 Desember 2019
#TantanganRCO6
#ODOPBatch7
Blitar, 19 Desember 2019
#TantanganRCO6
#ODOPBatch7

Komentar
Posting Komentar