Ulasan Cerpen Panembahan Podo
Ulasan Cerpen "Panembahan Podo"
Karya Suden Besayev
Oleh Karis Rosida
Historical fiction nampaknya jadi momok menakutkan bagi orang-orang awam dalam dunia literasi, khususnya saya. Setelah membaca beberapa cerpen sejarah, akhirnya saya tertatik untuk mengulas cerpen yang berjudul "Panembahan Podo" karya Suden Besayev atau nama aslinya Wakhid Syamsudin yang juga senior di komunitas ODOP (One Day One Post)
Jujur sebetulnya tugas terkait historial fiction menjadi berat untuk saya yang minim pengetahuan sejarah. Hanya bermodal nekat dan memberanikan diri mengurai cerpen yang sudah apik nan keren ini.
Judul
Dengan judul "Panembahan Podo", cerpen ini berhasil membuat saya tertarik menelusuri berbagai kata yang asing tertangkap mata. Saya pun mencari arti kata "panembahan" dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Selanjutnya saya begitu penasaran, apa panembahan podo ini murni imajinasi dari penulis atau memang faktanya ada?
Bahkan sempat saya mengubek-ubek di internet, sebelum saya menuntaskan membaca cerpen secara keseluruhan. Ternyata penulis sudah membubuhkan jawaban dari rasa penasaran saya di bagian paling bawah unggahan tulisan, yang menyatakan bahwa panembahan podo ialah fiktif.
Tema
Tema yang saya dapatkan dari cerita ialah tentang hak rakyat terhadapan pemimpinnya. Seorang pemimpin akan ditinggalkan rakyatnya jika berlaku sewenang-wenang.
Setting
Berlatarkan sejarah masa kerjaaan Kediri dengan kepemimpinan Prabu Kertajaya. Sosok Prabu kertajaya dari berbagai sumber artikel yang saya baca memang diibaraatkan sebagai firaun di zaman Nabi Musa. Tokoh inilah yang dalam cerpen diulas mengaku sebagai jelmaan Dewa, hingga mengharuskan semua orang tunduk pada titah perintahnya.
Untuk setting tempat, cerpen yang ditulis difokuskan pada satu tempat yaitu di Padepokan Kentang Sastra. Sementara ada tempat tambahan seperti pendopo.
Poin of view
Sudut pandang yang dipakai penulis ialah sebagai pihak ketiga yang tanpa bersentuhan langsung dengan semua tokoh yang ada dalam cerita.
Tokoh
Ada beberapa tokoh yang terkait langsung di cerita, yaitu:
- Panembahan Podo, sebagai tokoh utama yang diilustrasikan sosok pemuda cerdas, bijaksana, pemberani, berprinsip, penyuka sastra dan ilmu pengetahuan dengan diwujudkan menggunakan pakaian serba putih dan bersorban.
- Pangeran Jayasabha, putra Prabu Kertajaya yang patuh dengan perintah ayahandanya. Punya sifat tak sabaran dan keras.
- Cantrik, di sini tidak hanya satu melainkan ada beberapa.
- Ken Arok, tokoh yang dimunculkan pada bagian akhir sebagai pelengkap cerita yang nanti akan memimpin pemberontakan.
- Selusin Prajurit, pengikut setia Prabu Jayasabha.
Alur
Alur yang dipakai menggunakan model maju. Ditambah menggunakan tata bahasa yang mudah saya pahami, sehingga tidak terlalu sulit saya menangkap jalan ceritanya.
Berawal dari kedatangan Pangeran Jayasabha dengan selusin prajurit ke Padepokan Kentang Sastra menemui Panembahan Podo. Atas perintah ayahanda Prabu Kertajaya bermaksud memaksa agar Panembahan Podo ikut tunduk pada kekuasaan Prabu Kertajaya. Bergabung menjadi satu kekuatan, melawan dan menghentikan segala kemungkinan pemberontakan.
Namun hal itu ditolak, dan Pangeran Jayasabha tidak berhasil menggoyahkan keputusan Panembahan Podo.
Pandangan pribadi
Saya begitu menikmati jalannya kisah yang dituliskan oleh Suden Besayev. Meskipun berlatar sejarah yang dianggap banyak orang begitu berat, tetapi penulis berhasil mempermudah pembaca untuk memahami ceritanya.
Hanya ada satu yang menjadi ganjalan saat saya membaca cerpen ini. Yaitu Padepokan Kentang Sastra yang digambarkan kalau sekelilingnya hanya ada tanaman kentang, sudah turun temurun, penghuninya punya kebiasaan bertanam kentang didapatkan dari pendiri padepokan. Saya jadi teringat jika kentang diakui oleh berbagau negara di Eropa sebagai makanan pokok sejak dulu, sehingga saya mencari tahu, kapan kentang masuk ke Indonesia di internet.
Saya menemukan artikel wikipedia yang membahas bahwa kentang di Indonesia dibawa oleh kolonial Belanda dan tumbuhan ini ada pada tahun 1794. Cukup jauh jaraknya antara zaman Kerajaan Kediri. Namun artikel tersebut belumlah kuat tanpa bukti sejarah lainnya.
Bagi saya ini penting karena walaupun yang ditulis ialah fiksi, tetapi terkait kebiasaan atau budaya alangkah lebih baik juga disesuaikan dengan masanya.
Secara keseluruhan saya sungguh terkesima dengan tulisan Historical Fiction ini, penulisnya piawai menarasikan latar sejarah supaya dipahami dengan mudah oleh pembaca.
Berikut link cerpennya bila teman-teman tertarik membaca.
#UlasanHistoricalFiction
#TantanganKelasFiksi
#ODOPBatch7

Komentar
Posting Komentar