Minggu Syahdu Menanti Bapak
Minggu Syahdu Menanti Bapak
Oleh Karis Rosida
Liburan sekolah selalu dinanti oleh anak-anak. Hari minggu atau waktu liburan lain menjadi pengharapan terindah bisa berkumpul bersama keluarga. Dan minggu punya tempat istimewa di hati semua orang. Bahagia mengisi liburan, menikmatinya berkumpul dengan orang tersayang hingga cukup rebahan di kamar.
Namun di benak sebagian manusia, ada yang tengah memendam sekelumit pilu. Seseorang yang dinanti tengah berada di kota lain, bahkan luar negeri. Saya menyaksikan sendiri, beberapa pasang mata malaikat kecil menanti hadirnya bapak di sampingnya.
"Bapakku pergi cari uang," katanya.
Sudah lama berlalu, mereka hanya rindu bertemu. Lelaki pertama yang ditemui saat mereka lahir ke dunia benar-benar ditunggu. Selama ini mulut tediam, mengunci apa yang dirasakannya rapat-rapat.
Sama seperti tanah di musim kemarau panjang yang setia menanti hujan. Rintikan air yang turun dari langit sebagai tanda kuasanya pencipta. Sekali hujan menampakkan wajah, banyak orang kembali sumringah, mengucap syukur, dan paling asyik kala anak-anak kecil berlarian menikmati guyuran airnya.
Aroma petrichor menguar, mendung berwarna kelabu, suasana syahdu, begitu kira-kira gambaran tentang sekarang. Di hari minggu masih ada yang menanti bapaknya datang. Ia bermuka lesu, menatap anak-anak seusianya di luar sana tertawa ditemani sang bapak.
"Kapan kita bisa ketemu, Pak?"
Blitar, 29 Desember 2019

Komentar
Posting Komentar