Ketakutan Perempuan


Ketakutan Perempuan
Oleh Karis Rosida

Usai menuntaskan naskah Berteman Hujan, saya kembali mengambil tantangan dari Komunitas ODOP (One Day One Post). Masih jelas bagaimana rasanya menulis maraton untuk pertama kali selama tiga bulan. Penuh tekanan, nafas tersengal, dan saya seakan bertarung melawan keterbatasan diri.

Kini perjalanan akan terulang kembali di naskah baru yang masih akan saya tuliskan. Jika Berteman Hujan bercerita tentang perjalanan kehidupan seorang anak bernama Ali dan hanya sedikit menyingung tentang cinta. Tetapi dalam naskah yang sengaja saya ikutkan program ONB (ODOP Menulis Buku) perihal cinta saya tuangkan lebih banyak, berdampingan dengan perjuangan hidup seorang perempuan.

Sungguh ini bukan perkara mudah menuliskannya, sebab saya sendiri mengalami kesulitan menarasikan tema cinta. Namun tak ada salahnya menantang diri sendiri, bukan?

Dalam naskah baru bagai menelanjangi pribadi saya, karena saya juga perempuan. Ketakutan tentang masa depan, ambisi impian yang perlahan padam, gamang di waktu penantian dan sederet kegagalan dalam hidup, begitu komplit akan tersaji.
Seringnya bertemu dengan banyak perempuan beserta kisah hidup di balik senyum tawa ataupun tangis sedih mereka, membuat saya terdorong untuk  menuliskan sebuah karya.

Bahwa perempuan yang selalu identik dengan lemah lembut dan sisi afektif mendominasi diibaratkan bidadari, ternyata juga bisa begitu kuat. Jalan kehidupan yang memaksa demikian. Ujian bertubi-tubi dari Tuhan menghendaki seseorang mempunya jiwa baja yang bebal ditempa panas serta pukulan berat berulang-ulang.

Berjudul "Bidadari Bernama Nisa", tulisan ini hadir untuk menguatkan, mengispirasi siapa saja yang tengah dilanda gundah. Sepahit apapun kehidupan, pasti kita bisa menaklukkannya. Sebab kita semua adalah manusia pilihan Tuhan. 


Blitar, 31 Januari 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia