Postingan

Halo Neil! (Part 3 End)

Gambar
"Halo Neil, calon astronot masa depan," sapaan khas dari Mommy sudah tak ada lagi. Aku merindukan wanita yang telah melahirkanku itu. Hidupku bak memasuki gua besar, hitam gelap nan pekat. Berhari-hari kuhabiskan merenung di kamar. Gamang menjalani kedidupan baru nanti di Boston. Kebiasaan baruku melamun membuat Daddy angkat bicara. "Halo Neil, gimana sudah puas tinggal di gua?" tanya Daddy mengawali pembicaraan denganku. "Aku belum siap keluar Daddy," jawabku dengan lemah lesu. "Hei, ke mana Neil yang bersemangat kemarin? Apa kamu sudah berhenti mengejar impian besarmu yang juga impian Mommy?" hujam Daddy dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya. "Entahlah Daddy, aku sekarang ragu dengan hidupku," jawabku lirih dengan kepala menunduk. Dan Daddy perlahan mendekat, duduk di sampingku sampai terdengar helaan panjang nafasnya. "Neil, kau tahu. Daddy juga terpukul dengan kepergian Mommy, tak ada yang lebih men...

Halo Neil! (Part 2)

Gambar
"Mommy kenapa ingin sekali aku menjadi astronot?" tanyaku sewaktu kecil. Aku berhak bertanya tentang kejelasan masa depanku sendiri. "Kau tahu Nak, wajah Ohio telah tersenyum bangga sejak Neil Amstrong jadi manusia yang pertama kali menginjakkan kaki ke bulan. Dan Mommy ingin kamu menjadi Neil yang kedua bisa ke sana," jelas Mommy desertai tatapan menerawang masa depanku. "Tapi Mommy, hidup kita di pedesaan sekeliling kita hanyalah perkebunan apel. Bagaimana bisa aku menyamai Neil Amstrong?" tanyaku dengan penuh ketidakyakinan akan diri sendiri. Tiba-tiba Mommy memegang kedua pundakku erat dan mengguncangkan pelan. Ditatapnya kedua bola mataku yang tadi meredup. "Hei Neil! Nama kalian sama, tempat lahir kalian sama, Ohio. Tentu kamu punya kesempatan sama dengan Neil Amstrong. Jangan anggap remeh keyakinan Mommy," tukasnya dengan tegas. "Biarkan orang lain menganggap Mommy gila, dan Mommy yakin Tuhan mendengar doa tulus k...

Berteman Sunyi

Gambar
Ada hati yang lama sendiri menatap gemintang bertanya pada gelap pemilik malam apa aku bisa? Jiwanya tengah lemah lunglai berjalan di lautan nanah perih, sakit mendera sukma hingga tak mampu ia bersuara Laku kakinya pincang  sang penopang telah hilang berganti abu kenangan berterbangan menyeruak masuk mendobrak ketahanan sabar Telinga mengatup rapat mengunci senyap di kedalaman kalbu menghalau teriakan luar pasukan makian yang bertabuh genderang perang Ramai sungguh ramai orang-orang ini dibalasnya dengan secawan senyuman tanda ia berteman kedamaian walau hanya sunyi yang berhasil menusuk diri 🧕 Karis Rosida

Aku Tidak Sendiri

Gambar
Waktu memutuskan untuk fokus menulis hampir empat bulan lalu, sebetulnya ada sekelumit ragu dalam hati. Akankah saya berada di jalur literasi ini sendiri? Meskipun bagi saya tidak masalah ketika menjalani satu bidang disukai berjuang layaknya single fighter . Di sisi lain sejak dulu saya sudah terbiasa dengan kondisi yang memaksa diri berjalan tanpa ada tangan lain menggengam. Padahal sungguh dunia literasi saat itu menjadi bayangan yang masih gelap di otak. Tidak tahu apa saja benang merah yang saling terkait simpul di dalamnya. Berjalan pelan seraya meraba, begitulah yang saya lakukan. Untung saja didukung karakter pribadi super cuek saya dan sedikit keras kepala, maksudnya sewaktu niat sudah terucap lalu menancap di hati, serta ada keyakinan bahwa ini memang pilihan tepat pembawa kebaikan bagi orang lain. Dengan tekad membulat saya katakan, ya saya akan menjalankannya! Bersama ucapan bismillah ternyata Tuhan selalu memberikan apa saja yang dibutuhkan. Maka berdatangan ...

Saat Namamu Ada di Cover Buku

Gambar
Ketika membaca judul yang saya tuliskan di atas, kira-kira apa yang kalian rasakan? Terharu lalu berkata "Wah ini cita-citaku!", atau masih ada yang punya satu keinginan ini tapi tak berani mengungkapkan. Merasa belum percaya diri lantas memendamnya bertahun-tahun sampai terlupa dan tergantikan keinginan baru. Memang menjadi penulis tidak segampang apa yang ada dalam bayangan pikiran. Butuh waktu panjang di setiap prosesnya, kesabaran yang tak terukur juga berani keluar dari zona nyaman kita sebelumnya. Ketahanan level sabar benar-benar diuji, tak ada yang menjamin berhasilnya dirimu dalam bidang literasi. Pernah saya membaca sebuah tulisan dari penulis Filipina Sandra Roldan, ia punya tiga tip untuk menjadi penulis yaitu: 1. Read and read 2. Write 3. Get another job! Lucu ketika penulis senior memberi arahan untuk menduakan diri antara menulis dengan pekerjaan lain. Namun memang begitu realita, keadaan di berbagai negeri hampir sama kurang berpihak kepada ...

Bertanya Pada Diri

Gambar
Oleh Karis Rosida Siapa bilang menjalani hidup itu mudah? Jujur sebetulnya sangat berat dan manusia semua berharap jalan yang ditempuhnya bisa semulus jalanan di tol. Tapi nampaknya harapaan barusan hanya sekedar bualan kosong, tak akan pernah jadi kenyataan. Tentu saja yang dilewati akan ditemui ganjalan yang terkadang membuat kita sejenak berhenti, tersandung, bahkan sampai jatuh tersungkur. Maunya orang hidup ya jalan lurus bebas hambatan. Layaknya saat berkendara, ketika ganjalan itu datang seketika diri terkaget, mengaduh, mengumpat dan rasa tak enak tiba-tiba menjalar dalam hati. Bisa jadi marah, kecewa, bingung pikiran juga bisa kosong senyap tanpa isi. Kalau kondisinya parah solusinya cari bengkel atau jasa montir panggilan. Tapi dalam kehidupan siapa yang bisa diandalkan? Cukup berpegang pada diri sendiri dan Tuhan nampaknya menjadi pilihan yang tepat. Bukan tergantung pada uluran tangan orang lain. Berhenti berharap kekonyolan seperti itu terus berlanjut. Tidak...

Halo Neil! (Part 1)

Gambar
Oleh Karis Rosida Ada yang percaya dengan sebuah impian? Kadang aku sendiri tidak begitu memahami jalan takdir yang Tuhan beri, terkadang sungguh di luar nalar pikiran manusia. Dan itu nyata terjadi. Semua berawal dari satu keinginan Mommy untuk mempunyai seorang anak laki-laki yang harus bisa menginjakkan kaki ke bulan. Impian yang aneh bagi mayoritas orang di pedesaan terpencil di sudut kota Cleveland, Ohio, tempatku dilahirkan.  Tahun 1969 surat kabar dan tayangan televisi dipenuhi dengan berita mencengangkan mata dunia mengenai keberhasilan Amerika menjalankan misi Apollo dan mengantarkan sejarah peradaban tentang manusia pertama kali menginjakkan kaki di bulan, Neil Amstrong. Semenjak itu, kondisi Mommy mengkhawatirkan seisi rumah, seperti ada setan yang merasuki. Dia selalu terpaku di depan televisi saat ada tayangan perihal misi ke bulan, tak lupa dia menggenggam pena dan buku catatan warna merah tua. Belum genap keanehannya, Mommy juga mulai mengoleksi artikel-a...