Halo Neil! (Part 3 End)
"Halo Neil, calon astronot masa depan," sapaan khas dari Mommy sudah tak ada lagi. Aku merindukan wanita yang telah melahirkanku itu.
Hidupku bak memasuki gua besar, hitam gelap nan pekat. Berhari-hari kuhabiskan merenung di kamar. Gamang menjalani kedidupan baru nanti di Boston. Kebiasaan baruku melamun membuat Daddy angkat bicara.
"Halo Neil, gimana sudah puas tinggal di gua?" tanya Daddy mengawali pembicaraan denganku.
"Aku belum siap keluar Daddy," jawabku dengan lemah lesu.
"Hei, ke mana Neil yang bersemangat kemarin? Apa kamu sudah berhenti mengejar impian besarmu yang juga impian Mommy?" hujam Daddy dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya.
"Entahlah Daddy, aku sekarang ragu dengan hidupku," jawabku lirih dengan kepala menunduk. Dan Daddy perlahan mendekat, duduk di sampingku sampai terdengar helaan panjang nafasnya.
"Neil, kau tahu. Daddy juga terpukul dengan kepergian Mommy, tak ada yang lebih menyedihkan dari kehilangan kekasih hati. Tapi Daddy tetap memilih bertahan melanjutkan hidup, menyambung impian-impian hidup yang belum terwujud. Salah satunya impianmu dan impian Mommy," jelas Daddy.
Mendengarnya aku seketika mendongak menatap Daddy, memperhatihan guratan keseriusan di raut wajahnya. Ternyata Daddy yang selama ini diam, telah sembunyi-sembunyi mendukungku. Daddy yang selalu sibuk mengurusi perkebunan apel, juga menaruh harapan besar padaku. Lelaki di hadapanku ini memang irit bicara, dan baru kali ini aku mendengar suara isi hati yang sudah dipendamnya bertahun-tahun.
"Pintu gerbang impianmu sudah mulai terbuka, berangkatlah ke MIT dengan kepala tegak. Ingtlah Mommy tidak pergi, ia tetap hidup di hati," ucapnya sambil memegang dada sebelah kiri tepat lokasi jantung berada.
***
Pahlawan baru hadir dalam hidupku menggantikan posisi Mommy. Peran Daddy melanjutkan tongkat estafet setelah kepergian Mommy. Aku dan Daddy menjadi akrab seperti sahabat lama yang baru berjumpa. Dan benar saja setelah perjuangan panjang menjadi lulusan terbaik kampus teknik paling bergengsi di jagad ini, Tuhan membuka jalan impianku. Satu per satu dibuka-Nya dengan halus, meski terkadang ada kerikil tajam dan bebatuan besar yang perlu disingkirkan. Bagiku tak apa. Sebab begitulah kehidupan bekerja, sama dengan masa kelam saat aku terjatuh selepas kepergian Mommy.
Kini aku tengah menatap gedung megah menjulang tinggi warna putih yang di bagian atas menggambarkan identitasku. Sisi kiri gedung di hadapanku ini terpampang bendera amerika tempat kelahiranku, sedangkan sisi lainnya terdapat gambar bola besar warna biru tua dengan tulisan "NASA" di bagian tengahnya.
Ya, sekarang adalah tahun kelima aku bekerja di kantor antariksa NASA dan aku sedang mengikuti seleksi persiapan keberangkatan para astronot ke bulan. Di tanganku kupegang buku catatan warna merah tua milik Mommy yang berisi semua khayalan impiannya tentang seorang anak laki-lakinya.
"Hai Mommy, apa kabar di sana? Neil sudah membuktikan Mommy tidak gila, impian Mommy memang nyata. Aku akan ke bulan bersama buku Mommy, semoga Mommy tersenyum di surga," kataku lirih dengan mata yang berkaca. Aku rindu Mommy.
🔚🔚🔚

Komentar
Posting Komentar