Tutup Buku
Sudah lama tema bahasan saya jauh dati hiruk pikuk dunia perpolitikan di tanah air. Namun khusus hari ini, jiwa saya sudah berontak ingin ke luar dari jeruji batasan yang saya terapkan bertahun-tahun. Dulu sewaktu kuliah tak asyik jika belum membahas politik, didukung dengan mata kuliah yang semuanya berbau nasionalisme dan rasa kenegaraan yang tinggi. Jadilah diri ini makhluk yang dituntut melek akan kondisi negara. Namun kemarin saya tengah dalam masa hibernasi panjang.
Hari ini ialah momen ketika presiden Jokowi mengumumkan siapa saja orang kompeten yang duduk bersama menjalankan pemerintahan melalui Kabinet Indonesia Maju 2019 - 2024. Ada sejumlah nama-nama yang membuat mata melotot ketika membaca. Wajah baru dimunculkan dalam jajaran menteri. Paling viral yakni CEO dari perusahaan start-up yang dibangun beberapa tahun terakhir yaitu Nadhien Makarim. Menyusul nama pesaing presiden di pemilihan umum selama dua periode berturut-turut, adalah Prabowo.
Masih teringat bagaimana perseteruan para pendukung calon presiden di ajang pemilu kemarin. Saling bersitegang, munculkan ego bahwa pilihannya adalah yang terbaik. Bahkan paling parah sampai perang hujatan menjatuhkan di media sosial. Dalam benak saya waktu itu hanya ada satu tanya, buat apa?
Aneh saat banyak orang memilih memuja calon presiden dengan jalan menjelek-jelekkan pribadi orang lain. Sungguh tak elok, mengotori makna baik dari politik sendiri. Sekarang, masa lalu biarlah mempunyai porsi di waktu kemarin. Kini ada semangat baru yang harus dikejar.
Tutup buku menjadi pilihan tepat kala melihat para pemimpin negera sudah bersatu mewujudkan impian akan masa depan bangsa. Tak perlu lagi membedakan sesama berdasarkan kubu pasangan 01 atau 02. Karena sesungguhnya kita punya cita yang sama untuk Indonesia.

Komentar
Posting Komentar