Mendustai Nikmat Tuhan
Dua hari kemarin dipertemukan dengan dua senja berbeda, pertama saat perjalanan naik bis menuju Pare dan kedua kala kami berenam belas mengejarnya di ujung laut selatan Pacitan. Senja di bulan Oktober punya makna tersendiri bagi diri ini.
Ada kisah yang harus diakhiri dan awal baru yang menanti untuk dijejaki. Kisah lama tidak mungkin terlupa, sementara yang baru akan mendapat tempat istimewa. Sungguh Tuhan memang Maha Menyempurnakan segala yang dicipta.
Jalannya kehidupan seringkali menjadi sesuatu yang tak mungkin disangka-sangka bisa terjadi. Alurnya membuat manusia berpikir bahwa ia bisa menerima atau tidak, mau melanjutkan atau ingin berhenti saja. Segalanya berkaitan dengan proses hingga sampai titik ujung berhenti.
Hidup akan terus berjalan tanpa meminta kesiapan dari para pelakunya. Aku, kamu dan kalian punya porsi sama sebagai orang-orang yang sesungguhnya dikaruniai peemberian terbaik dari Tuhan. Masih menganggap dirimu adalah orang paling merana sedunia?
Mungkin saja ada sesuatu yang telah dilewatkan bahwa tugas manusia seperti kita pada hakikatnya hanya diminta untuk bersyukur. Menerima dengan penuh ikhlas, sepahit apapaun laku hidup yang datang. Buktikan diri, kita bukanlah hamba yang mengingkari nikmat dari Tuhan.
Nikmat mana lagi yang mau engkau dustakan?

Komentar
Posting Komentar