Jangan Panggil Aku Si Kutu!
Mendengar kata 'kutu' tentu langsung terbayang akan hewan kecil yang suka tinggal di badan manusia atau binatang. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan artinya ialah serangga parasit tidak bersayap, mengisap darah binatang atau manusia. Ada satu istilah yang sering digunakan sebagai bahan bercanda yaitu kutu buku. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya orang memanggil para pembaca dan penyuka buku dengan sebutan itu. Tidak ada kerennya sama sekali.
Teringat beberapa bulan lalu ketika saya mengikuti seminar literasi, ada satu peserta yang tidak terima saat orang-orang di sekitarnya memanggilnya kutu buku. Dia pun kesal dan menyampaikan curahan hatinya ke pendengar yang berada dalam ruangan seminar.
Melihat dari sudut pandang seekor kutu yang bersifat parasit dan merugikan tempatnya bersarang, memang rasanya tak pantas para pecinta buku dikatakan demikian. Padahal membaca buku itu sungguh asyik, punya banyak manfaat seperti menyegarkan pikiran, menambah wawasan dan membuat manusia jadi lebih pintar serta bijak menghadapi segala persoalan. Sama sekali tidak ada sisi negatif layaknya kutu yang berwujud hewan.
Mungkin saja alasan orang menciptakan julukan kutu buku karena ia betah berlama-lama menempel pada objek sasarannya, dan itu dianggap sama seperti manusia saat sudah kecanduan buku. Maunya nempel terus sama bukunya sebelum ia khatam membaca. Meskipun sebutan itu hanya kiasan atau perumpamaan, memang tak enak didengar telinga sewaktu orang disamakan dengan hewan tidak punya manfaat. Aneh bukan?
Membaca buku bagi saya adalah proses intelektual yang tidak semua orang menyukainya. Terbukti bahwa penguasa dunia yang bergelimpangan materi hampir bisa dipastikan ialah orang-orang pecinta buku. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Bill Gates, Mark Zuckerberg, Warren Buffet, Oprah Winfrey dan deretan tokoh terkenal lainnya adalah orang yang gila membaca. Dari buku mereka belajar memperbaiki kualitas diri, dan hasilnya akan terlihat kapasitas serta kualitas berbeda antara penyuka buku dan tidak.
Jadi masih mau menyebut kami kutu buku?

Komentar
Posting Komentar