Si Muka Tembok

Sumber: google

Hari ini saya kembali mendapat penolakan dari salah satu penerbit. Sebulan lalu ada dua draf naskah nonfiksi yang saya kirimkan untuk mengikuti program penerbit tersebut mencari naskah. Saya yang masih amatir mencoba peruntungan bersaing dengan ratusan naskah yang masuk. 

Bisa jadi orang mengira level percaya diri saya terlalu berlebihan atau lebay bahasa kekiniannya. Apalagi saya ialah orang yang baru saja mencicipi dunia menulis, masih setengah meraba sambil berjalan terus menuangkan aksara.

Saya tipikal orang yang serba cuek dan keras kepala. Bagi saya tak masalah kalau harus bermuka tembok dengan hasil tulisan ala kadarnya atau bisa dikatakan masih semrawut. Saya sudah terbiasa bersikap begitu.

Mental diri ini telah teruji bertahun-tahun. Pengalaman hidup di bidang marketing, training, dan kegagalan yang pernah dirasakan ternyata sungguh menebalkan mental saya. Satu penolakan ke penolakan lain sudah biasa saya dapatkan. Sebagai seorang wirausaha mental tahan banting melekat kuat dalam jiwa.

Ternyata ada untungnya Tuhan selama ini memberikan jalan hidup yang tak mulus untuk saya. Penuh lika-liku sampai membuat diri tersungkur dan terjatuh, tentu tak perlu saya ceritakan ke orang bagaimana rasanya. Saya pikir semua juga memiliki kisah dengan porsi sama, yang telah disesuaikan dengan kemampuan dirinya.

Apakah saya menyerah? Oh tentu tidak! Tak ada kamus berhenti di hidup saya. Semakin ditolak, diri ini justru semakin memanas untuk terus berusaha dan berkarya. Karena inti kehidupan ini ialah berjuang sampai bertemu titik akhir pemberhentian dari Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia