Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (Part 3)
"Hhmmm kalau gitu embak taaruf aja, coba ya aku tanya ke temen-temenku dulu. Siapa tau ada yang berkenan tertarik taaruf sama mbak!" ujarnya sangat meyakinkan. Taaruf memang langkah tepat, solusi untuk insan yang sudah siap menikah.
"Tenang aja mbak, insyaAllah nggak bakal lama kalau udah ada niat," lanjutnya sambil menatapku serius.
"Oke deh Vin, makasih ya. Tapiii... jangan bilang siapa-siapa lho ya masalah ini, apalagi sama orang kantor. Malu kan aku nanti kalau semua tahu," timpalku sambil memohon padanya, berharap ia tetap diam tak membuat heboh kalau aku sudah risau, gelisah untuk menikah.
"Siapp Mbak... tunggu kabar selanjutnya dariku ya," jawabnya sambil tersenyum menenangkan. Sejak saat itu aku memutuskan pasrah, rela dengan skenario yang sudah Tuhan berikan. Tugasku hanya menjalani, karena masalah pelik ini memang di luar kuasaku. Terlihat lemah dihadapan Rabku.
Tiga hari setelah percakapanku dengan Vina, tiba-tiba saat jam makan siang dia mendatangiku.
"Mbak ini ada yang mau taaruf sama Mbak, dia ustad muda insyaAllah bagus imannya, gurunya temenku. Udah Mbak tinggal buat CV taaruf aja, nanti biar aku dan temenku yang atur semua. Ditunggu besok ya Mbak CVnya, kan lebih cepat lebih baik," ucapnya membuatku terkaget di tengah rutinitas makan siangku. Aku seketika terdiam, tak sanggup bicara. Nasi dan lauk yang ada di hadapanku membuatku tak selera makan lagi, serasa hambar melihatnya.
Aku seperti di ujung kebimbangan ragu melangkah, tersadar karena dalam hatiku masih tertulis satu nama. Menyimpan rapat hingga tak ada seorang pun yang tahu, apa sesungguhnya isi hati ini. Aku masih mengharapkannya, dan bagaimana mungkin aku bisa membuka untuk hati yang baru saat di dalamnya masih aku setitik cahaya cinta untuk dia. Kenapa aku bisa serumit ini, andai aku tahu bahwa rasa yang mendera manusia bisa sesulit ini mungkin aku tidak akan pernah mau jatuh cinta sebelum halal terucap.
🔜🔜 Lanjutan di postingan berikutnya 😁

Komentar
Posting Komentar