Pemburu Bayangan Nabi (Episode 2)
Lelaki panutan dalam hidupku tiba-tiba berminggu-minggu tak pulang usai bertengkar hebat dengan Ibu. Saat itu rumah seakan seperti neraka, keduanya saling teriak, menyalahkan, bahkan makian untuk Ibu tega keluar dari mulut Bapak. Mereka bagai musuh besar yang mustahil bisa akur kembali. Padahal selama tujuh belas tahun aku bernyawa, tidak pernah sekali saja melihat keduanya emosinya memanas.
Aku belum bisa memahami sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Permasalahan pelik apa yang membuat kedua orang saling mencintai bisa seketika membenci. Hangatnya cinta berbalik menjadi prahara dalam keluarga. Bapak menghilang entah di mana. Hingga suatu hari kepulangannya di rumah membawa keputuskan untuk berpisah. Bapak memilih hidup bersama perempuan yang lebih muda dibandingkan Ibu.
Bapakku pembohong! Ia begitu pandai memakai topeng sebagai lelaki berwibawa di keluarga. Perlahan sosoknya semakin menjauh dan hilang. Aku membenci semua tentangnya dan cinta, bagiku cinta hanyalah omongan kosong tanpa isi. Manusia-manusia bodoh saja yang percaya pada ilusi ciptaannya sendiri.
"Ingat Bapak, kenapa dadaku jadi sesak?" batinku. Lalu kuhela nafas panjang untuk menenangkan gemuruh dalam jiwa. Meski belum sepenuhnya hilang, setidaknya cara ini cukup mendinginkan susana hati sebentar.
Sekarang yang kupunya hanya Tuhan. Proses panjang berliku memaksaku bersimpuh pada-Nya. Aku telah kalah melawan takdir-Nya. Perasaan malu datang kala mengingat perbuatan pecundang tengik sepertiku. Berulang-ulang sampai tak terhitung angka berapa jumlah dosaku? Menentang ketetapan dari-Nya, melanggar semua aturan. Bahkan di masa lalu dengan bangga menghina orang-orang beriman yang mengajak kembali mendekati Tuhan, termasuk ibuku sendiri.
Akulah pendosa yang terpukau nikmatnya dunia. Segala dosa yang ada di semesta nampaknya sudah pernah kujajali. Minuman keras dan narkotika ialah teman akrabku setiap hari. Bisnis haram seperti narkoba dan prostitusi telah lama sebagai mesin pencetak uang bagiku. Sungguh nikmat dunia melumpukan diri dalam kubangan bahagia sesaat.
"Aku ingin mendekati-Mu Rabbku..."
Buliran bening perlahan mendarat di pipiku. Menyadarkan betapa selama ini aku sudah terlalu jauh berlari meninggalkan penciptaku. Teriknya mentari, pohon besar di sampingku telah menjadi saksi bahwa masih ada cinta untuk-Nya.
🔜🔜
#TantanganPekan8
#Tantangan1Episode2
#ODOPBatch7

Menantin kelanjutannya. 😍
BalasHapusMakasih bund,, disiapkan 😁😁
Hapus