Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (Part 4 End)


"Allah haruskah aku ikhlas merelakannya, tapi aku belum sanggup melupakan dia. Kenapa di saat aku menginginkan sebuah cinta untuk menikah, justru Engkau memberikanku hati yang patah?" ucapku dalam doa di sepertiga malam, merengek bertanya, meminta jawaban dari Sang Kuasa layaknya anak kecil yang menginginkan jajan kesukaan ke ibunya.

"Hamba lelah di ambang kebingungan ini Rabbi, tidak tahu lagi harus berbuat apa ..." ucapku lirih dan seketika tangisku pecah, buliran air mata mengalir perlahan, terisak menahan rasa yang membuat dada sesak terhimpit cinta yang tidak pernah terungkap. Tersembunyi rapi di balik wajah kuatku, ekspresi riang dan tawaku selama setahun ini.

Dia yang tidak pernah kusebut, pertemuan singkat itu nyatanya berhasil merampas setengah hatiku. Padahal aku dan dia tidak berteman, bukan juga lawan. Kami hanya dipertemukan tanpa sengaja, sejak kepindahanku di tempat kerja sekarang sekitar hampir satu tahun lalu. Bertemu hanya satu minggu ketika dia yang dari kantor pusat Jakarta mengisi pelatihan untuk pegawai baru di kantor cabang Surabaya yang tak lain tempatku bekerja saat ini. Tapi ingatan tentangnya kuat melekat di tiap jaringan sel otakku. Setahun ini sangat membuatku lelah, bukan fisik namun jiwaku serasa berkejaran dengan waktu. Di sela aku termangu, dalam menit dan detiknya selalu muncul bayangan wajahnya. 

Memang perempuan makhluk perasa, selalu mengandalkan isi hati dibandingkan memilih nalar logikanya. Ternyata memendam rasa layaknya Fatimah putri Rasulullah sangatlah berat, dan aku hanya perempuan biasa akhir zaman yang jauh dari mulia. Imanku bahkan masih diragukan, seringnya dosa yang kuperbuat perlahan mengikis tembok pertahanan kuatku. Aku luluh lantah oleh perasaanku sendiri, kalah dikendalikan rasa yang tak pernah bertemu obatnya.

Sedangkan waktu terus berjalan tanpa meminta kesiapan. Takdir tidak pernah bertanya, apakah aku siap menjalaninya, sanggup melumpuhkan ujian dari Tuhan, atau sekedar menyapa bagaimana kondisi hati sebelum masa berlanjut menemui hari baru. Entah, tidak ada yang bertanya, semua sudah berjalan sesuai jalurnya tak terlambat atau mundur sedikitpun, apalagi maju sedetik saja.

"Vin, kasih waktu aku tiga hari biar aku siapkan CVku. Lagian juga udah bosan aku kamu tanyain terus. Kupingku udah panas, kamu teriakin CV melulu," ucapku di suatu hari, karena sudah tidak betah dengan desakan dari Vina tiap berpapasan dengannya, selalu dia menanyakan CV.

"Nah gitu dong mbakku, sudah saatnya menyambut cinta yang akan membuatmu bahagia, tentu lewat nikah dulu," jawabnya seraya mengeluarkan senyum tawa lebar. Pertanda usahanya selama ini tak sia-sia. 

Sekarang aku hanya harus memilih antara terus berjalan dengan setengah hati yang sudah patah atau mencoba menerima kepingan hati baru yang menawarkan bahagia. Pilihan berat yang pernah aku pertimbangkan, resikonya sama tidak membuat lega di hati yang gusar ini. Jika terus mengikuti suara hati, aku terus terjebak masa lalu yang terus berputar bagai lingkaran tanpa ada sudutnya. Andai aku menerima tawaran hati baru itu, sama halnya aku mendustai hati yang masih memuja dia. Aku hanya butuh sedikit waktu, mendekat ke pemilik cinta yang sesungguhnya. Sebab semua yang hidup bernaung pada-Nya, tempat semua cinta dan kasih bermuara. Aku ingin sembuh dari penyakit hati yang terus menghantui diri, membuat nafas kian tersengal. 

Kebebasan sementara yang kuinginkan, meraih cinta-Nya sebelum menerima cinta makhluk-Nya. Semoga saja Tuhan sedang mempersiapkan lelaki terbaik pilihan yang sanggup bersamaku berjuang bersama menggapai surga yang sesungguhnya, tidak di dunia melainkan nanti di akhirat kelak, tempat akhir setelah segala isi bumi terhenti.

"Allah mohon berikan pilihan terbaik-Mu," ucapku dalam sebaris doa usai salat yang kutunaikan. Aku putuskan untuk mencoba mengenal sosok lelaki baru dengan mantap dan mengucap Bismillah.

🔚🔚

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia