Halo Neil! (Part 1)
Oleh Karis Rosida
Ada yang percaya dengan sebuah impian? Kadang aku sendiri tidak begitu memahami jalan takdir yang Tuhan beri, terkadang sungguh di luar nalar pikiran manusia. Dan itu nyata terjadi. Semua berawal dari satu keinginan Mommy untuk mempunyai seorang anak laki-laki yang harus bisa menginjakkan kaki ke bulan. Impian yang aneh bagi mayoritas orang di pedesaan terpencil di sudut kota Cleveland, Ohio, tempatku dilahirkan.
Tahun 1969 surat kabar dan tayangan televisi dipenuhi dengan berita mencengangkan mata dunia mengenai keberhasilan Amerika menjalankan misi Apollo dan mengantarkan sejarah peradaban tentang manusia pertama kali menginjakkan kaki di bulan, Neil Amstrong. Semenjak itu, kondisi Mommy mengkhawatirkan seisi rumah, seperti ada setan yang merasuki. Dia selalu terpaku di depan televisi saat ada tayangan perihal misi ke bulan, tak lupa dia menggenggam pena dan buku catatan warna merah tua. Belum genap keanehannya, Mommy juga mulai mengoleksi artikel-artikel yang dipotongnya dari selebaran koran, tentu isinya tak lain membahas keberangkatan manusia ke bulan.
Mommy begitu terobsesi, dan ketika menikah keganjilannya masih berlangsung. Terlebih ketika Mommy melahirkan anak laki-laki pertamanya, menurut penuturan Daddy obsesinya makin meningkat levelnya. Nama anak laki-lakinya pun diambilkan dari nama Neil Amstrong, jadilah nama depanku diawali dengan nama Neil. Sedangkan nama belakang sempat menjadi perdebatan dengan keluarga yang semua latar belakangnya seumur hidup dihabiskan di perkebunan apel. Usai bersitegang yang sengit tersematlah namaku Neil Appleby.
***
Saat teman-teman lain sewaktu SD bisa bebas menuliskan impian masa depannya, namun tidak denganku. Otakku sudah terjajah dengan rangkaian khayalan mimpi Mommy. Aku sudah terbiasa terjejali kata-kata magisnya yang begitu apik menarasikan petualangan hebat manusia ke bulan.
"Halo Neil, calon astronot masa depan," panggil Mommy setiap berjumpa denganku. Sebutan astronot seakan sudah mendarah daging dalam ingatanku. Aku tak punya pilihan lain untuk mengikuti kehendak Mommy. Wanita pertama yang kujumpai di dunia dengan segala keanehannya. Aku berusaha menerima.
"Mommy kenapa ingin sekali aku menjadi astronot?" tanyaku sewaktu kecil. Aku berhak bertanya tentang kejelasan masa depanku sendiri.
🔜🔜 Lanjutan di postingan berikutnya 😁

Komentar
Posting Komentar