Jalan Sang Pejuang Mimpi

Jalan Sang Pejuang Mimpi
Oleh Karis Rosida


  Ada ribuan juta lebih penduduk di muka bumi ini, dan aku yakin semua pasti punya impian. Masing-masing orang seringnya punya puluhan hingga ratusan jumlahnya. Terbayang bagaimana padatnya semesta yang sesak dipenuhi dengan impian orang. Teringat masa kecil saat khayalan menari indah dalam pikiran. Belum ada beban yang dipanggul, dunia terasa longgar. Bebas bisa diisi sesuka hati tanpa ada tantangan kehidupan yang menghantui, seperti beban hidup yang suka bergentayangan di setiap kepala orang dewasa.

  Dulu angan yang masih fiksi begitu kuyakini akan menjadi nyata. Inginnya dipercepat segera, dengan gagah kuberanikan menantang waktu. Entah ke mana logikaku? Seakan telah lumpuh tertinggal di belakang, sangat jauh jaraknya. Tentang hidup semua terasa serba indah.

  "Hei lihatlah, aku punya impian kawan!" kataku dengan bangga menegakkan kepala kala itu.

  Terlena, satu kata tepat mendeskripsikan apa yang kurasa ketika memeluk erat deretan impianku. Terbuai dengan manis saat angan menjamahnya, semua seakan berwajah realita. Kadang kutersenyum dibuatnya, bahagia palsu yang sungguh membuatku mabuk terbelenggu ilusi yang kubuat di dalam pikiranku sendiri.

  Ribuan hari telah berganti dan aku tetap tumbuh dengan menggenggam erat label pejuang mimpi. Terdengar keren di telinga dan besar hati sewaktu impianku tak dimiliki manusia kebanyakan. Kuberanikan memilih jalan berbeda, tidak mau disamakan dengan orang di luar sana. Sebut saja aku aneh atau gila. Tidak apa! Semua hanya perihal waktu yang masih diam membisu, menutupi masa depan sebagai pembuktian.

  Tanpa kusadari ada yang telah luput dari perhatianku. Ketika sibuk bermimpi harusnya aku mengetahui resikonya. Satu per satu impian yang kutulis, perlahan ada yang terpaksa kudepak dari daftar panjang di buku catatanku.

  "Kenapa begitu?" tanyaku dalam hati, bingung mengurai alasannya.

  Baru kuketahui, ternyata jalan kehidupan bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Tuhan seringkali memilih jalan berbeda yang dianggap-Nya baik untukku. Dan aku belum siap berhadapan dengan satu kata paling menakutkan yaitu kegagalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia