Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (part 1)


Oleh Karis Rosida

Aku Rania perempuan biasa, segala tentangku tak ada yang istimewa. Cantik tidak, masih kalah dengan foto-foto perempuan yang terpampang di sosial media. Pintar sama sekali tidak, dibandingkan teman-temanku yang sudah banyak bergelar panjang, aku tak layak disandingkan. Karena itu aku kerap merasa tidak pantas menampilkan foto diri, berbagi kisah hidupku ke orang lain. Jika ingin tahu penampilanku seperti apa, mustahil bisa menemukannya di galeri media sosialku yang cukup berisi jepretan lensa kamera dan kutipan tulisan yang kubuat sendiri.

Saat ini aku sedang berada dalam fase yang mendebarkan, sebagai perempuan yang akan memasuki usia tiga puluh tahunnya. Umur sakral bagi mayoritas orang. Begitu banyak deretan tanya yang ditujukan padaku. Bagai perjalanan kereta yang cukup berhenti sebentar, lalu melanjutkan lajunya. Ada satu pertanyaan yang membuatku kelimpungan menjawab, hanya mampu terdiam membatu, mengatup pintu mulut, rasanya kata-kata itu tercekal seakan malu keluar.

Pertanyaan 'Kapan menikah?' sanggup membiusku, aliran darah berasa terhenti. Seketika inginku berlari menjauh pergi, menghilang entah ke mana. Sama seperti sekarang, terpaku mematung di depan meja kerjaku yang berwarna coklat berpadu kekuningan ini. Pandanganku merawang, potongan memori itu datang lagi memunculkan  sosok lelaki yang telah sukses membuat tidurku tak nyenyak, tidak senikmat dulu. Terbayang tatapan teduh matanya membuatku betah lama memandang. Senyuman tulus manis darinya saat menatap dan ketika bicara dengaku sungguh membuatku ingin kembali ke masa itu. Ya, aku merindukannya.

"Hayo Mbak lagi ngelamunin apa?" tegur teman kerjaku Vina sambil meletakkan satu tangannya di bahu kiriku.

"Kenapa? Cerita aja Mbak ke aku... nggak apa-apa kok, temanmu satu ini siap dengerin," katanya dengan mendaratkan tubuh ke kursi samping tempatku duduk. Meja kerja kami berdua memang bersebelahan.

Aku hanya membalas dengan gelengan kepala. Entah kanapa hari ini aku seakan tak mau bicara dengan orang sekantor. Ada gundah yang terus menghantuiku sejak lebaran lalu. Pertanyaan seorang wanita di rumah yang sudah melahirkanku terus berputar di otak. Emak begitu aku memanggilnya, wanita yang jadi panutan dan idolaku di tengah hidup yang sudah krisis keteladanan ini, Emak tetap yang terbaik.

🔜🔜 Bersambung ya.. 😁😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia