Menggugat Takdir
Menggugat Takdir
Oleh Karis Rosida
Andai manusia bisa menolak takdir, aku yakin semua akan berlomba-lomba merayu Tuhan. Berusaha mendekati dengan segenap upayanya. Berusaha memberikan yang terbaik hanya untuk-Nya. Ibadah semakin rajin, berdoa selalu dirapalkan tidak berhenti sepanjang waktu. Sedekah tak pernah ketinggalan, semua materi dikeluarkan hanya untuk Tuhan.
Sayangnya semuanya hanya fantasi pemikiran sesat dariku. Nyatanya takdir akan tetap datang meski ia bermuka masam, sedih, atau menggembirakan. Dan manusia bertugas menerima tanpa adanya penolakan. Ingin lari menjauhinya, silahkan dicoba pasti hasilnya akan sama yaitu takdir tetap bertemu jalan untuk menghampirimu. Sejauh apa kau menghindar, sembunyi di lubang yang tak terlihat orang, jawabannya masih sama bahwa takdir tetap setia mengekor padamu.
Takdir pun hanya menjalankan tugas dari sang kuasa. Tidak ada kekuatan lain yang sanggup memberi perintah absolut seperti Tuhan. Begitulah ia taat kepada prosedur yang diberikan-Nya. Tepat waktu, anti terlambat atau maju sedetik saja.
Sementara manusia yang sifatnya tidak pernah puas, reaksi yang ditunjukkan akan sama dengan pembawaan takdir. Ia bawa kesenangan maka kau ikut bahagia, lantas kalau ia bertampang sedih lalu kau akan menangis. Hingga deretan pertanyaan keluar dari lubuk hati terdalamnya.
"Kenapa aku begitu sial. Apa maunya Tuhan? Aku tidak terima!"
Inti ungkapan tersebut hakikatnya sebuah pertanda bahwa manusia belum ikhlas menjalankan ketetapan Tuhan. Memang berat jika mudah tak perlu aku membahasnya di sini. Atau kau abaikan saja tulisan remeh ini. Tapi sampai kapan kau terus menggugat takdir yang sudah diberikan-Nya khusus untukmu?

Komentar
Posting Komentar