Resiko Punya Impian
Resiko Punya Impian
Oleh Karis Rosida
Kalian pernah ditertawakan? Sama aku juga. Bahkan seringnya tak sebatas tawa, kadang muncul perlakuan berbeda hingga meremehkan. Padahal kita semua sama, makan nasi, minum air, menghirup oksigen, dan sama-sama makhluk penduduk bumi bukan alien yang terdampar di semesta ini. Sesungguhnya tiada yang berbeda, namun kenyataannya tidak begitu.Lazimnya orang akan terpana dengan sesuatu hal yang tampak tertangkap mata. Mau itu kecantikan atau tampannya fisik, materi berwujud uang, kendaraan atau rumah yang dimiliki, sampai jabatan dan kehidupan yang tampilkan di luar. Mungkin memang sudah kodratnya manusia bersikap tidak seperti Tuhan yang memandang hamba-Nya hanya dari sisi iman, tidak ada yang lain.
Ketika kita tengah berjuang sekuat tenaga untuk menjadikan impian itu nyata, tentu akan banyak didapati tantangan dari pihak luar. Bisa dari orang yang tak mengenal dirimu atau bahkan orang terdekatmu. Percayalah, aku sering merasakannya. Terlebih dengan orang tua di rumah, berkali-kali tidak sejalan dan saling mempertahankan prinsip masing-masing. Aku pilih pagi, eh orang tua inginnya malam. Begitu panjang untuk proses saling memahami hingga bertemu satu simpul kesepakatan: kami sudah satu jalan!
Apabila kalian masih berputar di fase ini, tidak apa nikmati saja. Tak perlu pakai emosi, rendahkan hatimu, ubahlah diri jadi pendengar yang baik. Dengan begitu, perlahan engkau akan paham bahwa perbedaan tak ubahnya sebagai pembelajaran. Jika sempat amarah keluar, segera redam.
Dulu aku sempat menyesal menjadi orang yang keras kepala, tak mendengar omongan orang tua. Hingga pada satu titik kebuntuan datang silih berganti. Baru kusadari bahwa jalan yang kutempuh memang salah. Aku teringat bahwa rida orang tua sama halnya dengan ridaTuhan. Waktu paling menyakitkan dalam kehidupan saat kita merasa sendiri di ambang kebingungan pada pilihan yang sudah yakin akan berhasil ditaklukkan. Satu-satunya langkah yang tepat yaitu mendekat pada sang kuasa. Ambil jeda sejenak, merenung, lakukan evaluasi dan segera perbaiki.
Punya impian memang tak mudah, dan sungguh hakikatnya kita sudah tercipta menjadi pejuang yang tangguh. Kebal dengan kata makian, tawa meremehkan, dan perlakuan merendahkan. Simpan kehebatan diri sampai waktu berpihak padamu. Saat sudah melewati semuanya, engkau akan tertawa lega, sudah berhasil membungkam mereka dengam bukti nyata.
Blitar, 10 September 2019

Komentar
Posting Komentar