Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya (Part 2)


"Kapan Nduk, kamu jadi menikah?" tanya Emak di malam takbir bulan ramadhan lalu, menunggu jawabku sambil memasukkan jajan lebaran ke dalam toples. Nduk ialah panggilan biasa bagi orang tua di pulau Jawa kepada anak perempuannya.

"Iya Mak, minta doanya saja. Semoga tahun ini Alloh meridhoiku menikah," jawabku tenang seraya menyembunyikan gugup di jantung yang terus berdetak kencang. Terkaget karena pertanyaan itu diucapkan lagi di tahun ini. Seingatku Emak orang yang irit bicara, tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana.

Menikah, siapa perempuan yang tidak mau hidup bersama seseorang terkasih yang Tuhan telah sematkan cinta di dalam hatinya. Berjuang bersama, membangun mimpi, mewujudkannya. Ah, alangkah indah sebuah pernikahan, membayangkan saja sudah membuatku bahagia. Ibadah terlama yang konon berjuta pahala di hamparkan dalam tiap perjalanan rumah tangga. Bahkan ada yang menyebutkan bercanda antara suami istri itu sudah termasuk pahala. Tidak terbayang berapa kebaikan dan berkah di dalamnya.

"Aku lagi galau nih Vin..." ungkapku pelan membuka isi hati sambil menunduk, rasanya bulir-bulir air mata mau terjatuh, tapi sekuat tenaga ku tahan.

"Galau kenapa? cerita aja Mbak," bilangnya lirih meyakinkan jika dia adalah tempat teraman di jagad galaksi. Aku menelisik keseriusan dari raut wajahnya, menatap lamat-lamat perempuan ayu ini. Aku masih ragu, mungkinkah ia sanggup menutup rapat, mengunci isi gelisahnya hatiku kali ini. 

"Jadi... waktu mudik kemarin Emakku tanya masalah kapan aku nikah. Gimana mau nikah, calon aja aku belum punya."  Ceritaku pendek ke Vina dan seketika itu entah kenapa dada yang sebelumnya sesak jadi merongga legang. Kami berdua saling terdiam sesaat, berada dalam pikiran masing-masing.

🔜🔜 Bersambung ke postingan berikutnya 😁😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia