Pemburu Bayangan Nabi (Episode 4)
Gelap bayangan hitam pekat hanya ada dalam pandangan mata. Tubuhku membujur kaku, apa ini yang disebut orang kematian? Entahlah, tiba-tiba waktu seakan berhenti. Sayup-sayup kudengar bacaan merdu ayat suci. Kelopak mata lengket benar, hingga begitu berat membukanya. Mengumpulkan seluruh sisa tenaga sampai akhirnya, berhasil!
Pertama yang tertangkap netra adalah langit-langit ruangan berwarna putih. Segera kucari sumber suara menenangkan itu, kutoleh kanan-kiri dengan pelan. Ada lelaki tua berpeci hitam di sudut ruangan, tengah khusyuk memegang alquran. Sekali lagi mecoba menggerakkan badanku sendiri, sungguh berat dan aku belum mampu menguasai fisik ini.
Kerongkongan terasa kering, aku butuh air. Mencoba bersuara, susah seperti seorang anak kecil yang baru belajar bicara.
"Hhmmm... Pak!" panggilku lirih ke Bapak tua berpeci hitam.
Bapak tua berpeci segera menoleh padaku, lalu menutup kalam Tuhan yang berada di tangannya. Ia mendekatiku.
"Ada apa, Nak?"
"Air..."
Bergegas ia ambilkan segelas air untukku, lalu membantuku duduk di kasur tempatku berbaring dan menatapku lamat-lamat. Seakan ada banyak tanya yang nanti ia tujukan padaku. Aku balik menatapnya, malah si Bapak tersenyum.
Dari penuturan Bapak tua berpeci katanya aku sudah tak sadarkan diri selama beberapa jam dan ini masih di area masjid tempat terakhir aku kehilangan kesadaran tadi siang. Bapak tua ialah marbot masjid, jadi ruangan ini memang kamarnya yang disediakan pengurus masjid untuk ia tinggali.
"Nak, bentar lagi waktu isya. Ayo bersiap salat."
Aku menjawab dengan gelengan kepala sebagai tanda penolakan.
"Kenapa?"
"Saya malu, Pak."
"Bukannya kalau ninggalin salat tambah malu lagi, Nak?"
"Saya ingat kejadian tadi siang, Pak. Sebelum mulai salat, Allah telah mencabut kesadaran diri. Mungkin Allah nggak mau saya dekati."
"Astaghfirulloh... Jangan berkata seperti itu."
"Saya sudah terlalu banyak dosa," kataku dengan menunduk malu.
"Nak... Justru ini waktu yang tepat untukmu mendekat di rumah Allah. Ia akan selalu menerima taubat hamba-Nya yang sungguh-sungguh," kata Bapak. Lalu kedua tangan keriputnya memegang pundak, mencoba menguatkan jiwaku yang lemah.
Ada sinar yang datang merasuk dalam kalbu, menghangatkan diri yang telah lama dingin dan keras layaknya batu.
"Apa ini cahaya dari-Mu, Rabbku?" kataku dalam hati.
🔜🔜
#ODOPBatch7
#TantanganPekan8
#Tantangan1Episode4

Komentar
Posting Komentar