Pemburu Bayangan Nabi (Episode 3)
Nampaknya uluran kerinduan pada Tuhanku disambut oleh semesta. Sayup terdengar lantunan cinta memanggil melalui suara azan zuhur di tengah hari menyengat seperti ini. Indah, hati bergetar ingin segera bertemu. "Aku mau bicara, menangis di hadapan-Mu Robbi ." Kedua kaki sontak berjalan cepat, seakan ada pendorong yang begitu kuat untuk melangkah menuju rumah Allah. Usai ke luar taman, mata ini disambut dengan keberadaan masjid di seberang jalan. Cukup megah dengan kubahnya warna hijau. Belum banyak jamaah yang datang, kuputuskan segera mencari tempat wudu. Andai menggugurkan dosa semudah membasuh badan dengan air yang menyucikan layaknya wudu, kupastikan jiwaku tidak akan pernah kering dari basahnya air yang menenangkan itu. Namun semua butuh pembuktian, apakah taubatku sebatas ucapan di bibir? Atau jiwa dan hati telah sungguh-sungguh menginginkannya. Aku sendiri belum meyakini maksud kemauan diri yang tengah di hempas kekalutan. Ketika memasuki masjid suda...