Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 3)

Gambar
Nampaknya uluran kerinduan pada Tuhanku disambut oleh semesta. Sayup terdengar lantunan cinta memanggil melalui suara azan zuhur di tengah hari menyengat seperti ini. Indah, hati bergetar ingin segera bertemu. "Aku mau bicara, menangis di hadapan-Mu Robbi ." Kedua kaki sontak berjalan cepat, seakan ada pendorong yang begitu kuat untuk melangkah menuju rumah Allah. Usai ke luar taman, mata ini disambut dengan keberadaan masjid di seberang jalan. Cukup megah dengan kubahnya warna hijau. Belum banyak jamaah yang datang, kuputuskan segera mencari tempat wudu. Andai menggugurkan dosa semudah membasuh badan dengan air yang menyucikan layaknya wudu, kupastikan jiwaku tidak akan pernah kering dari basahnya air yang menenangkan itu. Namun semua butuh pembuktian, apakah taubatku sebatas ucapan di bibir? Atau jiwa dan hati telah sungguh-sungguh menginginkannya. Aku sendiri belum meyakini maksud kemauan diri yang tengah di hempas kekalutan.  Ketika memasuki masjid suda...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 2)

Gambar
Lelaki panutan dalam hidupku tiba-tiba berminggu-minggu tak pulang usai bertengkar hebat dengan Ibu. Saat itu rumah seakan seperti neraka, keduanya saling teriak, menyalahkan, bahkan makian untuk Ibu tega keluar dari mulut Bapak. Mereka bagai musuh besar yang mustahil bisa akur kembali. Padahal selama tujuh belas tahun aku bernyawa, tidak pernah sekali saja melihat keduanya emosinya memanas. Aku belum bisa memahami sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Permasalahan pelik apa yang membuat kedua orang saling mencintai bisa seketika membenci. Hangatnya cinta berbalik menjadi prahara dalam keluarga. Bapak menghilang entah di mana. Hingga suatu hari kepulangannya di rumah membawa keputuskan untuk berpisah. Bapak memilih hidup bersama perempuan yang lebih muda dibandingkan Ibu.  Bapakku pembohong! Ia begitu pandai memakai topeng sebagai lelaki berwibawa di keluarga. Perlahan sosoknya semakin menjauh dan hilang. Aku membenci semua tentangnya dan cinta, bagiku cinta ha...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 1)

Gambar
Aku tengah berjalan mengikuti jalanan aspal di bawah sengatan ganasnya panas Kota Surabaya. Tempat pelarian usai kutinggalkan rumah tempatku bertahun-tahun hidup. Lebih tepatnya wanita paruh baya yang kupanggil Ibu telah mengusirku agar hengkang dari peraduan ternyaman. Rumah, hunian mendamaikan penuh cinta bagi seorang anak dan itu berlaku sebelum kepergian Bapak. Orang terusir nampaknya menjadi dua kata tepat menggambarkan kondisi nestapa hidupku. Kini aku benar-benar kalut, hati telah berserak tak beraturan dan mustahil kelak kepingannya akan utuh menyatu kembali. "Oh... harus ke mana lagi aku pergi Tuhanku?" jeritku dalam hati. Di kota penuh kesibukan ini tiada satu orang yang kukenal. Sepintas kedua netra menatap satu taman teduh di jantung kota. Tak begitu ramai kelihatannya. Kuputuskan segera masuk kawasan taman, dan pilihanku tertuju pada satu pohon paling tinggi besar yang sekiranya cukup sebagai tempat berteduh.  Segera kudaratkan tubuh duduk...

Menunggu Punah

Gambar
Sumber: Google "Darah muda, darahnya para remaja..." Mayoritas yang membaca pasti sudah mengetahui penggalan lirik dari lagu indah yang dilantunkan Raja Dangdut negeri ini, Rhoma Irama. Suara merdu, cengkok khas yang aduhai meliuk membuat telinga takjub mendengarnya. Lirik lengkapnya dipenuhi dengan semangat juang ala pemuda. Namun ada juga ungkapan: lain dulu, lain lagi sekarang! Pemuda dulu tak sama dengan pemuda sekarang. Benarkah demikian? Memang segala sesuatu akan beradaptasi sesuai zamannya. Pemuda dulu era Bang Rhoma Irama mendendangkan lagu Darah Muda tahun 1977, pasti tidaklah sama kondisinya dengan era sekarang. Bahkan tahun itu saya sendiri juga belum nampak ke permukaan bumi. Saya sebatas menuliskan masa lalu berdasarkan observasi sesaat dari data yang saya temui di dunia maya. Konon pemuda dulu masih identik dengan sifat malu. Kaum populer terbatas hanya artis papan atas ibu kota saja. Sementara di daerah masih minim akses untuk menunjukkan ek...

Apa Kabar Anak Pantai?

Gambar
Tulisan malam ini menjadi bukti bahwa saya masih butuh mengistirahatkan diri di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Tepat tujuh hari lalu saya bersama lima belas teman dari Pare, Kabupaten Kediri menuju Kabupaten Pacitan. Tujuan utamanya mau kondangan pernikahan teman kerja dulu. Tujuan kedua ialah liburan, meski bagi saya cuma punya waktu satu hari atau 24 jam bersama mereka. Tak apa, namanya masih tetap liburan bukan? Perjalanan menuju Pacitan yang berkelok dan naik-turun gunung begitu panjang berjam-jam lamanya, membuat saya tak bisa menuruti kantuk untuk memejamkan mata. Kebiasaan lama saya nampaknya kambuh lagi yaitu tak bisa tidur di sembarang tempat, apalagi saat perjalanan. Beruntung saya terbiasa menulis di mana-mana, paling tidak bisa mengobati kejenuhan yang melanda. Saya anggap satu hari itu ialah dunia fantasi yang bisa dinikmati hanya sekejap. Lalu saya harus terbangun kembali menghadapi dunia nyata. Begitulah realita berjalan, mau tidak mau ia akan te...

Pemburu Bayangan Nabi

Gambar
Oleh Karis Rosida Orang memanggilku pemburu bayangan. Mencoba menyamai, tetapi batasannya sangat jauh bagai tanah dan langit ketujuh. Terlalu naif kala hasrat beradu dengan kenyataan menyakitkan bahwa aku pendosa hebat sebagai umat Nabi. Aku merindu ingin bertemu manusia kekasih Tuhan. " Ummati ... ummati ..." Seruanmu ribuan tahun lamanya telah sampai padaku, Nabi. Namun dulu aku berontak mengkhianati ajaranmu. Sengaja menutup telinga demi menikmati dunia, sepasang mata terbuka menelanjangi kebahagiaan semu. Dimensi ruang yang benar-benar palsu. Aku tertipu! Terus berlari mengejar hidup yang hakiki. Mendaki satu bukit harapan lalu terjerembap menuju jurang kenestapaan. Diriku berlumur kubangan kotor yang disebut dosa. Sangat lengket, sampai bingung bagaimana cara membersihkan? Ambunya amis meninggalkan luka menganga bak nanah yang menguning di sekujur tubuh.  "Aku menyesal, Tuhanku!" Lakuku telah menghitam pekat tak menyisakan sedikit jej...

Si Muka Tembok

Gambar
Sumber: google Hari ini saya kembali mendapat penolakan dari salah satu penerbit. Sebulan lalu ada dua draf naskah nonfiksi yang saya kirimkan untuk mengikuti program penerbit tersebut mencari naskah. Saya yang masih amatir mencoba peruntungan bersaing dengan ratusan naskah yang masuk.  Bisa jadi orang mengira level percaya diri saya terlalu berlebihan atau lebay bahasa kekiniannya. Apalagi saya ialah orang yang baru saja mencicipi dunia menulis, masih setengah meraba sambil berjalan terus menuangkan aksara. Saya tipikal orang yang serba cuek dan keras kepala. Bagi saya tak masalah kalau harus bermuka tembok dengan hasil tulisan ala kadarnya atau bisa dikatakan masih semrawut. Saya sudah terbiasa bersikap begitu. Mental diri ini telah teruji bertahun-tahun. Pengalaman hidup di bidang marketing , training , dan kegagalan yang pernah dirasakan ternyata sungguh menebalkan mental saya. Satu penolakan ke penolakan lain sudah biasa saya dapatkan. Sebagai seorang wirau...

Titik Tempuh Terakhir

Gambar
Roda ini masih setia berputar meraba sepanjang perjalanan tentang jawaban satu tanya panjangku siapa kamu? lelaki yang akan berhasil menaklukkan hatiku Sudah lama hadirmu kunanti di setiap halaan nafasku berat kala teringat sosokmu masih abu buram kumenerawang mengintip takdir Tuhan bahkan rembulan tersenyum terangi kehampaan Salahkah jika aku terus merindu? dirimu penggenap imanku pemimpin masa depan diriku kumenanti menjadi makmum di belakangmu Dayita di mana engkau berada? aksaku buta menatapmu atma melayang memikirkanmu kalbu menginginkan jiwamu Titik belumlah berakhir memanjang meneruskan kisah perjalanan menyisakan koma beserta tanda tanya kapan kita bertemu?

Tutup Buku

Gambar
Sudah lama tema bahasan saya jauh dati hiruk pikuk dunia perpolitikan di tanah air. Namun khusus hari ini, jiwa saya sudah berontak ingin ke luar dari jeruji batasan yang saya terapkan bertahun-tahun. Dulu sewaktu kuliah tak asyik jika belum membahas politik, didukung dengan mata kuliah yang semuanya berbau nasionalisme dan rasa kenegaraan yang tinggi. Jadilah diri ini makhluk yang dituntut melek akan kondisi negara. Namun kemarin saya tengah dalam masa hibernasi panjang. Hari ini ialah momen ketika presiden Jokowi mengumumkan siapa saja orang kompeten yang duduk bersama menjalankan pemerintahan melalui Kabinet Indonesia Maju 2019 - 2024. Ada sejumlah nama-nama yang membuat mata melotot ketika membaca. Wajah baru dimunculkan dalam jajaran menteri. Paling viral yakni CEO dari perusahaan start-up yang dibangun beberapa tahun terakhir yaitu Nadhien Makarim. Menyusul nama pesaing presiden di pemilihan umum selama dua periode berturut-turut, adalah Prabowo. Masih teringat baga...

Mengapa Berteman Hujan?

Gambar
Pada tulusan kali ini saya hanya ingin berbagi mengenai naskah yang sedang saya tulis berjudul "Berteman Hujan", yang diperkirakan bisa rampung hingga bulan Desember nanti atau Januari 2020. Ketika ada salah satu penerbit indie yang mengunggah program w riting project di media sosial, langsung saya beranikan diri untuk mengikutinya. Padahal saya belum pernah selama ini menuntaskan naskah sampai puluhan bab layaknya novel. Saya tantang keterbatasan diri yang sejak kemarin berkutat pada membuat puisi dan cerita pendek. Sebetulnya ada dua alasan besar mengapa saya harus menulis naskah 'Berteman Hujan'. Pertama, sudah lama saya ingin menuliskan tentang apa saja yang terjadi di sekitar, bertema keluarga para pendulang devisa negara. Khususnya di wilayah pegunungan selatan Blitar. Ada sisi yang tak diungkapkan tertutup balutan kemewahan atau materi. Satu sudut pandang yang saya ambil ketika seorang pemimpin keluarga Bapak pergi meninggalkan keluarga demi kelua...

Seribu Nyawa

Gambar
Adakah yang lebih indah selain berbagi untuk sesama. Melihat senyum mengembang wajah-wajah sumringah dengan ketulusan bungah. Haru ketika bertemu, membawa berkah yang diridai Tuhan.  Sudah lama saya fokus untuk berbagi meski terkadang jalannya tidak selalu mulus. Begitu banyak tersendat hingga pernah berhenti sesaat. Namun waktu itu yang dirasakan hanyalah kekosongan, ada bilik hati yang belum terisi. Saya bagai berjalan setengah hati di kehidupan ini. Dulu langkah kaki seakan sendiri, namun kini tidak. Pertemuan demi pertemuan mengantarkan saya berjumpa dengan orang-orang yang satu pemikiran. Dari satu komunitas ke komunitas lain ternyata langkah juang tidaklah sendiri. Ada teman-teman yang memahami pikiran aneh dalam kepala.  Pada akhirnya kami saling bergandengan tangan melangkah, membagi cerita untuk menguatkan, mengisi hati yang belum penuh terisi. Berharap segalanya menjadi mudah dilewati dan semakin ringan kami berbagi. Bolehlah saya sedikit be...

Mendustai Nikmat Tuhan

Gambar
Dua hari kemarin dipertemukan dengan dua senja berbeda, pertama saat perjalanan naik bis menuju Pare dan kedua kala kami berenam belas mengejarnya di ujung laut selatan Pacitan. Senja di bulan Oktober punya makna tersendiri bagi diri ini.  Ada kisah yang harus diakhiri dan awal baru yang menanti untuk dijejaki. Kisah lama tidak mungkin terlupa, sementara yang baru akan mendapat tempat istimewa. Sungguh Tuhan memang Maha Menyempurnakan segala yang dicipta. Jalannya kehidupan seringkali menjadi sesuatu yang tak mungkin disangka-sangka bisa terjadi. Alurnya membuat manusia berpikir bahwa ia bisa menerima atau tidak, mau melanjutkan atau ingin berhenti saja. Segalanya berkaitan dengan proses hingga sampai titik ujung berhenti. Hidup akan terus berjalan tanpa meminta kesiapan dari para pelakunya. Aku, kamu dan kalian punya porsi sama sebagai orang-orang yang sesungguhnya dikaruniai peemberian terbaik dari Tuhan. Masih menganggap dirimu adalah orang paling merana sedun...

Waktu Bertemu

Gambar
Dua keping hati bermekaran meninggalkan kisah lama menyakitkan kini bunga telah punya pemiliknya semerbak harum wangi ambunya Kumbang hitam telah pergi sisakan sari yang belum terjamah naluri nafsu berbalut palsu angankan rasa yang terjerembab kubangan nelangsa Syair merdu mengiringi cita bahagia syahdu nan merindu rasa menguar masuk ke palung kalbu mengisi ruang kosong penuh sunyi Daun yang gugur telah terganti kembang hati baru bermuara kasih mengambang batasi kemarin dan esok yang menanti oh, sang kekasih bertemu sekarang Untaian nada indah terjelma berwujud cinta tak ada yang memaksa sebab dua hati ikatannya merekat sekuat takdir yang diperjuangkan

Senja di Bulan Oktober

Gambar
Satu senja di bulan oktober temaram kemilau mentari perlahan menghangatkan hati merasuk menjejaki kenangan yang tertinggal lamat-lamat diri teringat Satu masa yang telah lewat ada duka beradu dengan bahagia bercampur membaur memainkan rasa jiwaku dipaksa menerawang Mengumpulkan ingatan yang berserak di kepala potongannya bagai mosaik yang menyatu sedih menjelma jadi tawa tangis kini berwujud bahagia Kehilangan ternyata tak sesakit yang dibayangkan kenapa dulu aku terpaku pada angan semu? mungkin saja kemarin ialah waktu bertemu denganmu pembawa masa mendebarkan itu Kupahami apa arti menerima melepaskan dan ikhlas dengan perpisahan tak perlu memaksa meski hati menginginkannya biarkan takdir yang menjalankan tugasnya ya, aku bahagia!

Wisata Aneh di Dunia

Gambar
Saat mendekati musim liburan sekolah tentu pikiran akan tertuju pada satu kata yaitu wisata. Mau dibawa ke mana anak-anak dan keluarga? Pilihan tempat wisata yang lazim akan jatuh pada alam seperti pantai, gunung, lalu tempat asyik arena bermain layaknya deretan wisata di daerah Batu, Jawa Timur. Namun di Blitar beberapa tahun terakhir ada lokasi wisata aneh yang baru dibuka. Tak akan mungkin didapatkan kenangan istimewanya di belahan bumi manapun. Kata orang Jawa wisata nyleneh yang bisa diartikan berbeda dari biasanya yaitu ada Wisata "Ngudek Jenang" berlokasi di Desa Rejowinangun Kabupaten Blitar. Dari segi kata yang dipakai begitu menggoda pikiran untuk bertanya, wisata apa itu? Sumber: travel.tempo.co Dua kata sebagai magnet penarik para wisatawan ialah "Ngudek Jenang" yang diambil dari bahasa Jawa. Ngudek artinya mengaduk, sedangkan jenang ialah makanan khas Jawa Timur yang biasanya ditemukan saat ada hajatan seperti pernikahan atau acara...

OTW 30

Gambar
Usia tiga puluh bagi sebagian orang menjadi sebuah titik pembatas, bahwa level kematangan emosi, tingkat kedewasaan seseorang sudah berubah. Masa yang tidak sama saat berada di umur dua puluhan. Sudah bukan waktunya untuk diisi dengan sesuatu yang tak berguna, karena hidup tidak akan pernah terulang. Teringat ketika saya sendiri mengalaminya detik-detik mendebarkan itu. Hal pertama yang saya lakukan ialah berkata: "Oh, aku sudah mau tiga puluh tahun ya!" Baru tersadar dan ada sekelumit perasaan janggal di hati. Seketika banyak pertanyaan muncul di kepala yang mengacu pada kehidupan saya sendiri. Sudahkah benar hidup saya? Kenapa jiwa merasa ada sesuatu yang kurang? Apa saya sudah siap menjalani hidup ke depan? Sungguh deretan pertanyaan berputar tiap hari memadati pikiran. Saya sempatkan bertanya ke teman-teman yang lebih dulu berada di fase awal tiga puluh tahun. Ternyata jawaban mereka juga sama, ada debaran dan kekhawatiran. Jika tak pintar mengelola diri, sa...

Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (Part 4 End)

Gambar
"Allah haruskah aku ikhlas merelakannya, tapi aku belum sanggup melupakan dia. Kenapa di saat aku menginginkan sebuah cinta untuk menikah, justru Engkau memberikanku hati yang patah?" ucapku dalam doa di sepertiga malam, merengek bertanya, meminta jawaban dari Sang Kuasa layaknya anak kecil yang menginginkan jajan kesukaan ke ibunya. "Hamba lelah di ambang kebingungan ini Rabbi, tidak tahu lagi harus berbuat apa ..." ucapku lirih dan seketika tangisku pecah, buliran air mata mengalir perlahan, terisak menahan rasa yang membuat dada sesak terhimpit cinta yang tidak pernah terungkap. Tersembunyi rapi di balik wajah kuatku, ekspresi riang dan tawaku selama setahun ini. Dia yang tidak pernah kusebut, pertemuan singkat itu nyatanya berhasil merampas setengah hatiku. Padahal aku dan dia tidak berteman, bukan juga lawan. Kami hanya dipertemukan tanpa sengaja, sejak kepindahanku di tempat kerja sekarang sekitar hampir satu tahun lalu. Bertemu hanya satu minggu ...

Ilusi Hati

Gambar
Ada jiwa yang selalu berharap tentang asmara menyisakan laku hidup berteman angin melambaikan sejuta tanya Aku iya tapi kamu tidak bagai berjalan dengan kaki tanpa bisa tegak Menatap dunia seakan tidak berpihak cinta memang kadang tak mulus Angan terpaku pada satu namamu aku benci tapi juga rindu Hidupku berputar bagai bianglala pernah naik dan sewaktu-waktu bisa turun Merendah ingin membuang senyum palsu hempaskan pilu yang merasuk menjelajahi kalbu Tuhan tengah mengajariku nyatanya ada bahagia bersanding sengsara Sakitnya terasa melukai sukma ilusi tanpa kompromi Andai kita tidak pernah mengenal cinta sayangnya mustahil bila orang tak mengenal tambatan hati Pilih terus atau behenti? menyudahi nyeri saat kau sudah jauh tertelan mimpi **Ditulis dengan santuyy 😁😁

Jangan Panggil Aku Si Kutu!

Gambar
Mendengar kata 'kutu' tentu langsung terbayang akan hewan kecil yang suka tinggal di badan manusia atau binatang. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan artinya ialah serangga parasit tidak bersayap, mengisap darah binatang atau manusia. Ada satu istilah yang sering digunakan sebagai bahan bercanda yaitu kutu buku. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya orang memanggil para pembaca dan penyuka buku dengan sebutan itu. Tidak ada kerennya sama sekali. Teringat beberapa bulan lalu ketika saya mengikuti seminar literasi, ada satu peserta yang tidak terima saat orang-orang di sekitarnya memanggilnya kutu buku. Dia pun kesal dan menyampaikan curahan hatinya ke pendengar yang berada dalam ruangan seminar.  Melihat dari sudut pandang seekor kutu yang bersifat parasit dan merugikan tempatnya bersarang, memang rasanya tak pantas para pecinta buku dikatakan demikian. Padahal membaca buku itu sungguh asyik, punya banyak manfaat seperti menyegarkan pikiran, menamba...

Ada Alien di Kamarku

Gambar
Sebagai makhluk sosial saya benar-benar menyukai setiap pertemuan dengan orang-orang di luar rumah. Memandang wajah baru, bertegur sapa, saling berbincang membahas perihal kehidupan, semua aktivitas tersebut sungguh tak menjemukan. Tempat belajar yang murah nan gratis bagi pribadi saya. Tak perlu ikut seminar motivasi dengan harga jutaan, kehadiran saya di tengah mereka ialah sebagai murid yang bersemangat belajar langsung dari para pelaku kehidupan. Tidak peduli apakah mereka berwujud anak-anak hingga orang yang lebih tua dibandingkan saya, setiap momen kebersamaan selalu saya pergunakan dengan penuh fokus maksimal. Semua indera terbuka lebar-lebar menangkap setiap alurnya. Namun semenjak menulis muncul sisi egois dalam diri tanpa saya sadari. Semua gerak tak seasyik dulu, saya dituntut pintar membagi waktu. Menahan keinginan bercengkrama bersama orang-orang yang terkadang muncul di sela-sela menuntaskan target menulis. Berkali-kali saya harus mengasingkan diri dari hiruk...

Bukan Makhluk Romantis

Gambar
Sejak dulu entah kenapa saya seperti alergi dengan hal-hal yang berbau romantis. Meskipun saya seorang perempuan nampaknya ada pengecualian di diri saya yang harusnya dipunyai oleh rata-rata perempuan. Nalar logika yang ada dalam kepala terlalu mendominasi mengalahkan sisi perasaan. Saya sendiri tak pernah ambil pusing, kenapa saya berbeda? Kalau melihat kata romantis dalam KBBI artinya: bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan), bersifat mesra, mengasyikkan, berarti lengkap sudah bahwa saya memang tidak sama. Bahkan dulu hal yang membuat saya tertarik ialah buku-buku nonfiksi. Akhir-akhir ini saja saya baru berpindah haluan menjadi penyuka buku fiksi. Novel-novel yang saya baca pun tak ada satu saja yang bertema romantis. Aneh bukan? Satu keganjilan dalam diri saya rupanya juga begitu berpengaruh saat menulis. Pernah sekitar dua atau tiga bulan lalu saat ada kompetisi menulis dengan tema romantis. Saya tertantang ke luar dari cangkang yang biasa saya gunakan. Menco...

Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (Part 3)

Gambar
"Hhmmm kalau gitu embak taaruf aja, coba ya aku tanya ke temen-temenku dulu. Siapa tau ada yang berkenan tertarik taaruf sama mbak!" ujarnya sangat meyakinkan. Taaruf memang langkah tepat, solusi untuk insan yang sudah siap menikah. "Tenang aja mbak, insyaAllah nggak bakal lama kalau udah ada niat," lanjutnya sambil menatapku serius. "Oke deh Vin, makasih ya. Tapiii... jangan bilang siapa-siapa lho ya masalah ini, apalagi sama orang kantor. Malu kan aku nanti kalau semua tahu," timpalku sambil memohon padanya, berharap ia tetap diam tak membuat heboh kalau aku sudah risau, gelisah untuk menikah. "Siapp Mbak... tunggu kabar selanjutnya dariku ya," jawabnya sambil tersenyum menenangkan. Sejak saat itu aku memutuskan pasrah, rela dengan skenario yang sudah Tuhan berikan. Tugasku hanya menjalani, karena masalah pelik ini memang di luar kuasaku. Terlihat lemah dihadapan Rabku.  Tiga hari setelah percakapanku dengan Vina, tiba-t...

Rintikan Sendu Hujan

Gambar
Rintikan Sendu Hujan Kering meronta membawa kisah nestapa air sumur menyurut sisakan duka hawa panas kian meranggas tanya pada waktu terbelenggu was-was Tak terhitung hari berapa lama orang menanti bumi merindu rintik nyanyian nabastala turun mengundang suara bahagia Oh, hujan aroma wanginya Orang gunung tak lagi menangis kodok pun ikut bersenandung petani sumringah anak-anak kecil berlari di bawah gerimis Andai waktu mampu diputar cepat kita akan segera berjumpa hujan namun tersembunyi sepenggal takut bila kau selalu ikut Aku gamang memikirkanmu hadir terlalu banyak juga tak enak banjir mengancam minta diusir datangkan bencana berwajah ganda lagi, orang berharap engkau segera pergi #TantanganPekanKe5 #ODOPBatch7

Hidupku Bagai Lari Maraton

Gambar
Pasti para pembaca sudah mengetahui apa itu lari maraton. Lari jarak panjang dengan terus-menerus menantang kekuatan fisik dan juga fokus. Nampaknya sekarang saya juga sedang mengalaminya dalam kehidupan. Adrenalin begitu terpacu bisa menembus batas-batas yang sebelumnya saya berlakukan pada diri ini. Tahun 2019 sudah hampir di penghujung jalan, membuat saya kelimpungan ternyata ada beberapa target impian yang belum mampu terwujud. Di sisa tiga bulan terakhir otomatis tubuh, pikiran, dan hati dipaksa bekerja seirama. Berkejaran antara saling menguatkan atau menjatuhkan.  Ini bukan perkara sederhana yang hanya berkutat tentang diri saya. Ada impian yang ditujukan untuk orang-orang tercinta, serta demi peradaban ke depan. Dua hal yang butuh fokus level dewa, tidak ada kata main-main dalam kamus saya sekarang. Saya tengah konsentrasi pada dua sisi yaitu bisnis dan menulis. Dua Pilihan Sampai saat ini saya pun belum bisa memutuskan mana yang lebih pantas d...

Penantang Badai

Gambar
Berani bukan berarti tidak takut atau belum pernah berselimut ragu dan bermuka surut Ada getar yang disembunyikan bertopeng gagah menipu mata memandang Awan berbisik memberikan kabar langit bukan Tuhan mau memingit Senandung kemenangan telah dikumandangkan memanggil hati yang tengah berjuang Tidak peduli besarnya badai, ia lewati merangkak, berjalan dengan kedua kaki Dunia tertawa tak pernah ia pedulikan nyaring hinaan membuatnya jalan dengan segenap kekuatan Adakah manusia sehebat dia? penantang terbaik yang dimiliki zaman Tetap merendah hormati pemilik bumi tunduk pada perintah Sang ilahi Hamba telah kalah Rabi! dengan ia penguasa hati nan suci Harap sisakan sedikit waktu untukku aku akan kembali pada-Mu 🧕Karis Rosida

Pilihan Cinta Dewi Songgo Langit

Gambar
Adakah cinta yang sebenar-benarnya cinta seperti cinta manusia pada pemilik semesta. Meski berbeda posisi antara pencipta dan makhluk ciptaan-Nya, akan tetapi esensinya tetap sama bernama cinta. Sungguh mengherankan ketika manusia seringkali mengabaikan kasih sayang tulus Sang Pencipta dan lebih memilih wujud semu makhluk. Sungguh rapuh, mudah goyah ketika terpaan angin kencang menguji kekuatannya. Apakah nafsu ingin memiliki sanggup mengalahkan naluri kebaikan? Dan ketika nafsu mengendalikan, maka semua akan terburai bagaikan kepingan kaca yang sudah pecah, hancur berantakan. *** Didapati ada seorang putri kerajaan dari Kerajaan Panjalu atau biasa disebut Kediri yang tengah murung sudah berhari-hari. Bayangan gelap seakan menyelimuti dirinya. Senyum sumringah yang biasa ditampilkan menghiasi wajah ayu berangsur menghilang. Kata-kata sang ayah yakni Raja Airlangga terus berputar memenuhi isi kepalanya. Desakan Raja Airlangga untuk putrinya segera menikah berhasil membuat De...