Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Bertanya Pada Diri

Gambar
Oleh Karis Rosida Siapa bilang menjalani hidup itu mudah? Jujur sebetulnya sangat berat dan manusia semua berharap jalan yang ditempuhnya bisa semulus jalanan di tol. Tapi nampaknya harapaan barusan hanya sekedar bualan kosong, tak akan pernah jadi kenyataan. Tentu saja yang dilewati akan ditemui ganjalan yang terkadang membuat kita sejenak berhenti, tersandung, bahkan sampai jatuh tersungkur. Maunya orang hidup ya jalan lurus bebas hambatan. Layaknya saat berkendara, ketika ganjalan itu datang seketika diri terkaget, mengaduh, mengumpat dan rasa tak enak tiba-tiba menjalar dalam hati. Bisa jadi marah, kecewa, bingung pikiran juga bisa kosong senyap tanpa isi. Kalau kondisinya parah solusinya cari bengkel atau jasa montir panggilan. Tapi dalam kehidupan siapa yang bisa diandalkan? Cukup berpegang pada diri sendiri dan Tuhan nampaknya menjadi pilihan yang tepat. Bukan tergantung pada uluran tangan orang lain. Berhenti berharap kekonyolan seperti itu terus berlanjut. Tidak...

Halo Neil! (Part 1)

Gambar
Oleh Karis Rosida Ada yang percaya dengan sebuah impian? Kadang aku sendiri tidak begitu memahami jalan takdir yang Tuhan beri, terkadang sungguh di luar nalar pikiran manusia. Dan itu nyata terjadi. Semua berawal dari satu keinginan Mommy untuk mempunyai seorang anak laki-laki yang harus bisa menginjakkan kaki ke bulan. Impian yang aneh bagi mayoritas orang di pedesaan terpencil di sudut kota Cleveland, Ohio, tempatku dilahirkan.  Tahun 1969 surat kabar dan tayangan televisi dipenuhi dengan berita mencengangkan mata dunia mengenai keberhasilan Amerika menjalankan misi Apollo dan mengantarkan sejarah peradaban tentang manusia pertama kali menginjakkan kaki di bulan, Neil Amstrong. Semenjak itu, kondisi Mommy mengkhawatirkan seisi rumah, seperti ada setan yang merasuki. Dia selalu terpaku di depan televisi saat ada tayangan perihal misi ke bulan, tak lupa dia menggenggam pena dan buku catatan warna merah tua. Belum genap keanehannya, Mommy juga mulai mengoleksi artikel-a...

Resensi Buku "Mengikhlaskanmu, Aku Bisa"

Gambar
Oleh Karis Rosida Ketika minggu ini mendapat tantangan dari ODOP Batch 7 membuat otak saya berpikir, buku mana yang akan saya pilih? Saya yang sejak dulu terbiasa dengan buku-buku nonfiksi rasanya ingin mencoba membuat sesuatu yang berbeda. Setelah pertimbangan sebentar, akhirnya pilihan jatuh pada buku "Mengikhlaskanmu, Aku Bisa" yang diterbitkan oleh TransMedia Pustaka. Buku ini bagi saya menarik, karena pertama kalinya membaca model buku fiksi berupa novel dengan tulisan yang indah dan membuat saya ketagihan membaca sampai akhir. Jangan dibayangkan sama dengan novel pada umumnya. Buku terbitan TransMedia Utama menurut saya selalu punya ciri khas sendiri. Novel ini benar-benar berbeda dituliskan dengan minim dialog dan tanda petik di atas. Lebih menyajikan monolog 'Aku' dengan dipenuhi deskripsi dan narasi. Buku sejenis yang pernah saya baca ialah "Cinta yang Diacuhkan" penulis Khrisna Pabhicara. Bertema sama seputar patah hati, cinta tak berbala...

Rusia, Antara Surga Ilmu dan Rumah Kedua

Gambar
Oleh Karis Rosida Siapa yang tidak mengenal Rusia? Negeri asal karakter animasi lucu Masha and The Bear , yang terletak membentang di antara benua Asia dan Eropa. Bagi yang belum mengenal pasti menganggap negara ini kaku dengan ajaran idealisme yang ketat. Ketika tahun 2018 lalu negara yang sekarang dipimpin Vladmir Putin menunjukkan taringnya menjadi tuan rumah Piala Dunia dengan spektakuler. Seakan membuka mata dunia, Rusia telah menyulap wajahnya menjadi ramah dan tempat kedamaian dijunjung tinggi. Begitulah kondisi Rusia kini yang sangat layak diperhitungkan untuk dihuni, terlebih bagi para pencari ilmu. Jika banyak orang memilih Eropa atau Amerika sebagai tujuan melanjutkan studinya, namun tidak dengan saya. Pilihan hati ini sudah jatuh pada Rusia, ratusan kampus tersebar di berbagai belahan wilayahnya, lengkap beserta konsentrasi pilihan jurusan yang beragam. Sungguh, makin membulat tekad untuk segera hijrah ke sana. Bahkan puluhan kampus di Rusia juga secara pe...

Tiga Hati Pendusta

Gambar
Oleh Karis Rosida Bukan satu, melainkan tiga Datang bergilir menyentuh rasa Bualan manis dan bodohnya aku percaya Ucap hasrat, tipuan nafsu demi kalimat "Aku akan menikahimu" Dusta,, Pergi ke luar usai menyayat hati yang tercabik Bekas luka masih menganga Ku tutup tawa palsu wajah manisku Menghujam jantung kala potret mereka datang Menari meliuk dalam rongga ingatan Aku yang dungu Ku telan pil pahit masa lalu Terkenang, belum bertemu obat mujarab Sisakan nanah menggunung melilit sukma Memenjarakan ecap perasaku Kelu,, Gelap, pengap, sesak Ingin ku berlari membelakangi orbitan waktu Tapi tidak bisa! Berjalan terseok membalut hati terluka Belum utuh, jiwaku tak genap senyawanya Akankah dayita itu ada? Detik ini tidak terlihat tangkapan aksa Buram, masih tersembunyi rapat di nabastala Rayu bujukku suatu malam ke Tuhanku Aku merindu Lelaki penggenap imanku Semoga Engkau berkenan mengirimnya Hingga ku tangkap harsa dunia, nyata

Merdeka Telah Kusut

Gambar
Oleh Karis Rosida Kini, tak ada lagi gerilya Bambu runcing sudah lenyap Meriam dan tembakan telah kedaluwarsa Tersisa pejuang veteran dengan sejumput asa Lupa atau sengaja otakmu lari dari sebuah masa Menyedihkan! Perjuangan amat berat Bagai menggenggam bara api Kau melawan orang-mu sendiri Tiada teman, semua berbulu setan Menjatuhkan, demi kata kenyang dan gengsi Kau luka terjajah tetangga kanan-kiri Memilukan! Andai orang mati dapat bangkit kembali Taman Makam Pahlawan tentu akan kebanjiran Tangisan, raungan nestapa penyesalan Kenapa kuasa ada di tangan mereka berwajah hitam? Rakyat menangis teriris kebijakan Tumpul ke atas, tajam menyayat ke bawah Mencari kiblat, susah! Merdeka telah kusut Berwujud utopia, sebatas terbang di angkasa Ada tapi tak nyata! Blitar, 14 Agustus 2019 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 Puisi "Merdeka Telah Kusut" yang saya tulis 14 Agustus 2019 kemarin kembali saya munculkan. Nampaknya mewakili perasaan saya yang tak ikut ...

Sepeda Kumbang Sang Jendral

Gambar
Oleh Karis Rosida Tanyakan pada sepada kumbangku seberapa besar cinta untuk negeriku besi tua berkarat tergerus zaman saksi bisu perekam masa lalu Cintaku melebihi sayang pada nyawaku tak apa sukma melayang terhujam peluru jiwa tumbang di tangan kompeni atau serdadu Jepang dalam hati masih terpatri namamu, Indonesiaku Kini waktuku sudah tamat menyiratkan jejak kenang perjuangan tengok sebentar, lihatlah darah yang terbuang berbau harum meski engkau tak mengenal Dan nafas bangsaku masih bersambung berganti wajah pembawa episode baru sekarang cerita memuai tentang kamu pewaris tangan renta panjangku Sungguh sayang, masih terdengar tangis dan jeritan luka lebam dihantam kerasnya kehidupan orang banyak memikul sengsara Ke manakah kalian wahai tuan? pemangku jabatan pemakai mahkota langit jangan berlagak tuli dan bisu tanpa ucapan sisi malaikatmu tiba-tiba hilang tertutupi bualan Aku menangis meratapi nasib negeriku gelar jendralku sebatas di nisan usan...

Puisi: Titik Tak Bergaris

Gambar
Oleh Karis Rosida Beda kata yang mampu membuatku terhenti mendongak ke atas, aku tak mampu memandangmu hanya menambah pilu Biarlah aku dan kesendirianku mengagumimu dalam senyap, tak berbekas rasa berangsur memudar meski harus menikam hati ribuan kali Bertemu denganmu, bagai mimpi dalam kaleidoskop mampu melihat indahmu namun tak sanggup menyentuh Bahagia semu bertarung dengan rasa seakan dunia tertawa melihat diriku merana Sendiri terdiam mencoba menghujam hati perlahan tidak akan kubiarkan rasa ini tumbuh tanpa mampu kendalikan Kubungkus dalam kotak terkunci di kedalaman hati terkubur tanpa pamit kepadamu hingga kau tidak pernah tahu rasa itu Tak sanggup kubertahan pada titik tanpa ada garis sama halnya dirimu, tidak pernah menganggap hadirku aku menangisi kebodohan yang kuciptakan Blitar, 23 September 2019

Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya (Part 2)

Gambar
"Kapan Nduk, kamu jadi menikah?" tanya Emak di malam takbir bulan ramadhan lalu, menunggu jawabku sambil memasukkan jajan lebaran ke dalam toples. Nduk ialah panggilan biasa bagi orang tua di pulau Jawa kepada anak perempuannya. "Iya Mak, minta doanya saja. Semoga tahun ini Alloh meridhoiku menikah," jawabku tenang seraya menyembunyikan gugup di jantung yang terus berdetak kencang. Terkaget karena pertanyaan itu diucapkan lagi di tahun ini. Seingatku Emak orang yang irit bicara, tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana. Menikah, siapa perempuan yang tidak mau hidup bersama seseorang terkasih yang Tuhan telah sematkan cinta di dalam hatinya. Berjuang bersama, membangun mimpi, mewujudkannya. Ah, alangkah indah sebuah pernikahan, membayangkan saja sudah membuatku bahagia. Ibadah terlama yang konon berjuta pahala di hamparkan dalam tiap perjalanan rumah tangga. Bahkan ada yang menyebutkan bercanda antara suami istri itu sudah termasuk pahala. Tidak terb...

Mengapa Takdir Tak Pernah Bertanya? (part 1)

Gambar
Oleh Karis Rosida Aku Rania perempuan biasa, segala tentangku tak ada yang istimewa. Cantik tidak, masih kalah dengan foto-foto perempuan yang terpampang di sosial media. Pintar sama sekali tidak, dibandingkan teman-temanku yang sudah banyak bergelar panjang, aku tak layak disandingkan. Karena itu aku kerap merasa tidak pantas menampilkan foto diri, berbagi kisah hidupku ke orang lain. Jika ingin tahu penampilanku seperti apa, mustahil bisa menemukannya di galeri media sosialku yang cukup berisi jepretan lensa kamera dan kutipan tulisan yang kubuat sendiri. Saat ini aku sedang berada dalam fase yang mendebarkan, sebagai perempuan yang akan memasuki usia tiga puluh tahunnya. Umur sakral bagi mayoritas orang. Begitu banyak deretan tanya yang ditujukan padaku. Bagai perjalanan kereta yang cukup berhenti sebentar, lalu melanjutkan lajunya. Ada satu pertanyaan yang membuatku kelimpungan menjawab, hanya mampu terdiam membatu, mengatup pintu mulut, rasanya kata-kata itu tercekal se...

Puisi: Sebait Doa Tanpa Nama

Gambar
Sebait Doa Tanpa Nama  Oleh Karis Rosida Pernah kulangitkan sebait doa kuselipkan namamu aku minta petunjuk terbaik-Nya Hasilnya engkau terus menjauh tidak mampu diriku menjangkaumu tidak pantas jika harus bersanding kau langit dan aku kerak bumi yang terdalam Sudah aku pasrah menanti kau berbelok kepadaku khayalan semu atau sekedar kau menyapaku, itu hanya lamunanku Lelah menerka diammu mencoba melupa senyum dan tatapanmu kala itu Aku harus bergerak atau terdiam mati menyentuh bayangmu aku tidak sanggup tentangmu perlahan kumusnahkan membiarkan kau tersimpan baik dalam puing memori Esok entah aku tidak bisa menerka lagi apa Allah akan menghadirkan dia yang baru? apa kau berbalik kepadaku? merelakan Allah menjalankan kuasa-Nya dan kini aku sadar hidupku di dunia nyata

Puisi: Aku Kembali Tuhanku

Gambar
Aku Kembali Tuhanku Oleh Karis Rosida Adakah yang lebih hebat dari ganasnya badai kehidupan? Membuat jiwa jatuh tersungkur dalam kubang derita Meraung meminta Tuhan beri sedikit bantuan Saat itu yang dibutuhkan hanya jeda Berhenti sejenak, menghilang dari edaran waktu Kau butuh merendahkan egomu Tanya pada hati: apa yang salah dalam dirimu? Mungkin, Dia tengah mengujimu Atau rindu dengan manisnya doamu Tuhan hanya memintamu kembali Mendekat, berdua dengan kekasih sejati Bukankan kau masih cinta Dia? Jangan pernah kau gadaikan cintamu untuk dunia Fana yang akan kau dapatkan Semu tak ada titik akhirnya Apa kau sudah melupa pada-Nya? Lalai akan seruan cinta kala azan berkumandang Kau malah tertawa, pecundangi kalbu dari-Nya Terlena, hidupmu kau pertaruhkan Jiwamu satu, niat busukmu ribuan Berkabut pekat gelapnya dosa pengundang mala Membuka sesalan pintu neraka Derita keabadian Kembali! Kau perlu berbelok, buatlah persimpangan Bahagia perlahan akan d...

Tuliskan Kegilaanmu!

Gambar
Tuliskan Kegilaanmu! Oleh Karis Rosida Menulislah sebelum kau mati! Bagikan ceritamu, biarkan orang mengenal siapa dirimu sesungguhnya. Jangan bersembunyi, tunjukkan ke dunia kalau kau benar-benar ada di semesta ini. Sungguh indah saat miliaran manusia mengetahui keberadaanmu, hadirmu di nanti melalui ide-ide gila dan tulisan yang bernyawa. Tak perlu teriak-teriak membuat sensasi, bungkam  mereka dengan kata-kata magismu. Taklukkan dunia bersama hati tulus dan imajinasi yang kau wujudkan di tulisan fiksi. *** Jujur saja saya mulai memberanikan diri menulis sejak tiga bulan terakhir ini. Di usia yang mungkin bagi sebagian orang dikatakan terlambat. Tapi bagi saya tidak apa-apa sebab perjalanan masing-masing orang pasti akan berbeda dan ada waktu tersendiri. Bisikan untuk menulis begitu kuat dan saya yakin di balik semua ada campur tangan Tuhan yang menghendaki saya bertemu dengan komunitas-komunitas literasi yang satu pemikiran. Dan saya tidak merasa sendirian. Memulai...

Menggugat Takdir

Gambar
Menggugat Takdir Oleh Karis Rosida Andai manusia bisa menolak takdir, aku yakin semua akan berlomba-lomba merayu Tuhan. Berusaha mendekati dengan segenap upayanya. Berusaha memberikan yang terbaik hanya untuk-Nya. Ibadah semakin rajin, berdoa selalu dirapalkan tidak berhenti sepanjang waktu. Sedekah tak pernah ketinggalan, semua materi dikeluarkan hanya untuk Tuhan. Sayangnya semuanya hanya fantasi pemikiran sesat dariku. Nyatanya takdir akan tetap datang meski ia bermuka masam, sedih, atau menggembirakan. Dan manusia bertugas menerima tanpa adanya penolakan. Ingin lari menjauhinya, silahkan dicoba pasti hasilnya akan sama yaitu takdir tetap bertemu jalan untuk menghampirimu. Sejauh apa kau menghindar, sembunyi di lubang yang tak terlihat orang, jawabannya masih sama bahwa takdir tetap setia mengekor padamu. Takdir pun hanya menjalankan tugas dari sang kuasa. Tidak ada kekuatan lain yang sanggup memberi perintah absolut seperti Tuhan. Begitulah ia taat kepada prosedur yang...

Bertemu Kekalahan Lagi

Gambar
Bertemu Kekalahan Lagi Oleh Karis Rosida Berulang, aku kembali bertemu dengan kekalahan. Dia benar-benar tidak pernah bosan berjumpa dengan diriku. Saat aku sudah mulai menampakkan semangat juang, dia seperti tak ikhlas melepaskan pergiku. Buktinya dia datang lagi, padahal aku sudah mengusir dan membuangnya sangat jauh sampai tidak terlihat pandangan mata. Nyatanya gagal memang datang bertamu setelah kekalahan pertamaku. Lukanya saja masih terasa dan dia dengan seenaknya berwajah ceria, mengusik ketenanganku dengan senyum seringainya. Samar kudengar tawa meledeknya. Kuping ini begitu panas memerah akibat marah dan kesal yang tak berkesudahan. "Apa maunya Tuhan ini?" kuberanikan bertanya pada Tuhan yang telah memberi jalan berliku padaku. Aku tak percaya semua kekalahan datang silih berganti menguji titik batasku. Benteng pertahanan masihkah engkau berdinding kokoh? Aku tidak tahu sampai kapan kekuatanku sanggup menerima semua ujian dari-Nya. Aku hanya berpegang p...

Kekalahan Pertama

Gambar
Kekalahan Pertama Oleh Karis Rosida Dalam suatu pertandingan tentu ada pihak yang menang dan juga kalah. Begitu dengan kehidupan. Saat kita sudah berjuang sekuat tenaga hingga berdarah, namun hasilnya ternyata kalah, sudah pasti pukulannya begitu kuat. Terlebih jika kekalahan itu adalah yang pertama kali, rasanya amat menyesakkan dada. Dan naasnya terkadang diantara kita tidak bisa memprediksi dan mempersiapkannya. Maunya berhasil saja. Masih jelas ada dalam ingatanku saat kekalahan pertama datang. Aku yang selalu berpikir positif benar-benar dibungkam tak berdaya. Dunia seakan mandek, detikan jarum jam seperti berhenti, dan bayangan gelam nan pekat mulai menghinggapi di setiap gerak langkahku. Semesta berasa sempit mengapit semangat yang sebelumnya berapi-api. Hingga aku pernah kehilangan nyali untuk bermimpi. Semua terasa kabur di pandanganku. Terperanjat menjadi kata tepat menggambarkan apa yang dirasakan saat itu. Sampai-sampai diriku tidak mengetahui ke mana lagi langka...

Dilumpuhkan Kenangan

Gambar
Dilumpuhkan Kenangan Oleh Karis Rosida Kenangan itu datang lagi, mengusik jiwa tenang yang telah kubangun selama ini. Kepingan memori yang telah kusembunyikan di dasar otak kembali memberontak. Meraung meminta disapa. Menarik ikatan pada hati yang tengah gundah, aku seperti manusia yang kalah melawan rasa. Sungguh lucu kala diri tak sanggup berkutik bersanding masa lalu. Akankah aku selamanya berteman dengan hujan? Derasnya rintikan rindu yang tak ada balasan dari dia pencuri hatiku. Aku terlanjur basah menyesap genangan cinta yang turun entah dari mana. Tiba-tiba hadirnya membuatku tersenyum seakan menemukan bahagia yang tak pernah kutemukan. Aku terlena. Namun jalan yang kulalui belum sempurna dan perlahan senyumku menghilang bersama kepergiannya. Baru tersadar bahwa dia telah meninggalkan luka yang terlampau dalam. Lubangnya mampu melumpuhkan atma dalam sudut kesendirian. Waktu seakan macet menghentikan segala tenaga yang ada. Hanya bisa berbaring di atas kasur jerami k...

Hidup Kembali

Gambar
Hidup Kembali Oleh Karis Rosida Aku yakin miliaran penghuni bumi ini pasti sudah pernah mengalami kegagalan. Datangnya sanggup menghentakkan kesadaran diri pada posisi bertahan atau bahkan terjatuh. Raga yang awalnya dipenuhi energi juang bisa seketika luruh, hingga terkadang tersungkur dan lebam berbalut kesedihan. Dan bagi sebagian orang membutuhkan waktu panjang untuk bisa tegak berdiri kembali. Mengapa bisa begitu? Tentu tiap manusia punya pemahaman yang berbeda tentang arti kegagalan. Uniknya banyak diantara kita memahaminya sebagai keburukan pembawa kesialan. Tiada celah bagi kesuksesan, sampai percaya anggapan bahwa nasibmu akan dipenuhi kepahitan. Memang rasanya begitu menyakitkan, membuat dada begitu sesak dan kepala bagai dihimpit batu keras nan berat. Percaya semua orang tak hanya sekali berhadapan dengan rasa yang tidak enak itu. Jadi bukan hanya kamu. Akan tetapi segalanya bisa berangsur membaik, dan kabarnya kita bisa pulih dari cabikan nestapa dunia. Kubisikka...

Dua Pilihan Hidup

Gambar
Dua Pilihan Hidup Oleh Karis Rosida Berjuang memang melelahkan dan kata siapa itu bisa mudah dilakukan? Mustahil kalau kata juang kau anggap layaknya sulap yang sekejap bisa langsung menjadi nyata. Pakai mantra "abrakadabra" semua bisa datang seketika. Atau panggil dulu jin yang memiliki sejuta kekuatan dengan cara menggosok-gosok lampu ajaib seperti dalam film Aladdin. Semua hanyalah bualan, imajinasi para pesulap dan pengarang cerita dalam drama layar lebar. Lelah pasti, ragu tentu sering dilalui, bahkan berbelok arah mungkin sudah dilakulan berkali-kali. Begitu banyak keraguan dan gamang datang menyergap memenuhi isi kepala. Munculnya seringkali tak diundang tapi butuh waktu tidak sebentar untuk mengusirnya pergi. Seperti setan yang setia mengejar, menakuti manusia dari arah yang tak disangka-sangka. Membuat lutut gemetar, badan lemas kehilangan tenaga. Kita hanya diberi pilihan yaitu menjadi pecundang yang ketakutan atau mengusirnya dengan keberanian. Jika pil...

Hanya Ingin Berlari

Gambar
Hanya Ingin Berlari Oleh Karis Rosida "Wahai kaki maukah kalian berlari?" tanyaku pada kedua kakiku yang tengah kupandangi. Kuperhatikan satu per satu pada setiap lapisan kulit yang membungkusnya. Tidak ada yang berbeda dan semua sama. Coba kugerakkan sedikit, ternyata kaki ini masih mau menuruti tuannya. Sekali lagi mencoba memastikan, kugerakkan kembali keduanya bersamaan. Tanpa celah semua merespon dengan baik tiada sedikit kekurangan. Namun terkadang langkahku sempat goyah. Kedua kaki seakan enggan bergerak dan hanya mampu mematung. Pernah sampai lunglai gemetaran saat aku berusaha membulatkan tekad. Mengejar impian! "Ah, bagaimana aku bisa berlari kalau kondisinya seperti ini?" pikirku dengan kepala penat. Dada begitu sesak membayangkan impian yang selalu meminta diwujudkan menjadi nyata. Hasrat untuk segera mencapai kesuksesan begitu menggebu dengan menyisakan sekelumit ragu. Bimbang dengan keputusan kalau aku harus tetap maju. Tidak ada yang bisa...

Resiko Punya Impian

Gambar
Resiko Punya Impian Oleh Karis Rosida Kalian pernah ditertawakan? Sama aku juga. Bahkan seringnya tak sebatas tawa, kadang muncul perlakuan berbeda hingga meremehkan. Padahal kita semua sama, makan nasi, minum air, menghirup oksigen, dan sama-sama makhluk penduduk bumi bukan alien yang terdampar di semesta ini. Sesungguhnya tiada yang berbeda, namun kenyataannya tidak begitu. Lazimnya orang akan terpana dengan sesuatu hal yang tampak tertangkap mata. Mau itu kecantikan atau tampannya fisik, materi berwujud uang, kendaraan atau rumah yang dimiliki, sampai jabatan dan kehidupan yang tampilkan di luar. Mungkin memang sudah kodratnya manusia bersikap tidak seperti Tuhan yang memandang hamba-Nya hanya dari sisi iman, tidak ada yang lain. Ketika kita tengah berjuang sekuat tenaga untuk menjadikan impian itu nyata, tentu akan banyak didapati tantangan dari pihak luar. Bisa dari orang yang tak mengenal dirimu atau bahkan orang terdekatmu. Percayalah, aku sering merasakannya. Terlebih...

Jalan Sang Pejuang Mimpi

Gambar
Jalan Sang Pejuang Mimpi Oleh Karis Rosida   Ada ribuan juta lebih penduduk di muka bumi ini, dan aku yakin semua pasti punya impian. Masing-masing orang seringnya punya puluhan hingga ratusan jumlahnya. Terbayang bagaimana padatnya semesta yang sesak dipenuhi dengan impian orang. Teringat masa kecil saat khayalan menari indah dalam pikiran. Belum ada beban yang dipanggul, dunia terasa longgar. Bebas bisa diisi sesuka hati tanpa ada tantangan kehidupan yang menghantui, seperti beban hidup yang suka bergentayangan di setiap kepala orang dewasa.   Dulu angan yang masih fiksi begitu kuyakini akan menjadi nyata. Inginnya dipercepat segera, dengan gagah kuberanikan menantang waktu. Entah ke mana logikaku? Seakan telah lumpuh tertinggal di belakang, sangat jauh jaraknya. Tentang hidup semua terasa serba indah.   "Hei lihatlah, aku punya impian kawan!" kataku dengan bangga menegakkan kepala kala itu.   Terlena, satu kata tepat mendeskripsikan apa yang kurasa ket...

Belokan Takdir

Gambar
Belokan Takdir Oleh Karis Rosida   Cinta pertama! Bagiku sudah lenyap tertelan gulungan waktu, tergerus bersama hati yang telah remuk berkali-kali. Jika banyak anak perempuan di luar sana menganggap ayah sebagai cinta pertamanya, terkesima melihat gagah dan tangguh lelaki pertama yang ditemuinya di dunia, hal ini tak berlaku untukku. Ayahku sudah gagal menjadi cinta pertamaku, dan waktu tidak akan pernah berulang kembali ke masa lalu yang tertinggal.    Ketika usiaku sepuluh tahun di pojok kamar petak, Aku bersama adik perempuanku Naila duduk gemetar. Naila kudekap dengan tubuhku yang bergejolak mendengar makian,  adu mulut dari dua orang dekatku. Ya, suara itu berasal dari kedua orang tuaku Ayah dan Ibu. Sudah sekitar satu minggu ini kerap kudengar suara mereka meninggi. Aku si sulung harus berperan sebagai tempat yang yang menenangkan bagi adikku Naila. Selisih kami berdua tak jauh, Naila waktu itu usianya tujuh tahun dan sudah masuk tahun pertama di ...