Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Minggu Syahdu Menanti Bapak

Gambar
Minggu Syahdu Menanti Bapak Oleh Karis Rosida Liburan sekolah selalu dinanti oleh anak-anak. Hari minggu atau waktu liburan lain menjadi pengharapan terindah bisa berkumpul bersama keluarga. Dan minggu punya tempat istimewa di hati semua orang. Bahagia mengisi liburan, menikmatinya berkumpul dengan orang tersayang hingga cukup rebahan di kamar. Namun di benak sebagian manusia, ada yang tengah memendam sekelumit pilu. Seseorang yang dinanti tengah berada di kota lain, bahkan luar negeri. Saya menyaksikan sendiri, beberapa pasang mata malaikat kecil menanti hadirnya bapak di sampingnya. "Bapakku pergi cari uang," katanya. Sudah lama berlalu, mereka hanya rindu bertemu. Lelaki pertama yang ditemui saat mereka lahir ke dunia benar-benar ditunggu. Selama ini mulut tediam, mengunci apa yang dirasakannya rapat-rapat. Sama seperti tanah di musim kemarau panjang yang setia menanti hujan. Rintikan air yang turun dari langit sebagai tanda kuasanya pencipta. Sek...

Perbedaan Versi Sharon Creech

Gambar
Perbedaan Versi Sharon Creech Oleh Karis Rosida Ketika tantangan Reading Challenge ODOP 6 (RCO) menantang untuk membaca buku terjemahan dari penulis luar negeri, tentu menjadi keseruan tersendiri bagi saya penikmat buku bergenre fiksi. Bermodal buku pinjaman dari Perpustakaan Nasional Bung Karno pilihan hati jatuh pada buku yang berjudul " Postcard from Switzerland " karya penulis Sharon Creech, sang peraih Newbery Medal, penghargaan buku remaja terbaik di Amerika. Buku yang kaya akan budaya dari berbagai negara. Tentang pencarian jati diri seorang anak perempuan yang sejak kecil hidup berpindah-pindah bersama keluarganya di beberapa negara bagian Amerika. Hingga petualangan hidupnya mengantarkannya ke negara Swiss.  Membaca buku keren ini saya bagai berkeliling dunia. Bertemu dengan masing-masing tokoh dari berbagai negera dengan bahasa, kebiasaan, watak yang berbeda-beda. Pegangan tepat saat RCO juga memberikan tantangan membuat tulisan persamaan dan perb...

Ulasan Cerita Remaja

Gambar
Ulasan Cerpen "Ratu Siriusku" Karya Illa Fadhillah Oleh Karis Rosida Mengerjakan tugas dari kelas fiksi kali ini yaitu mengulas cerpen cerita anak atau remaja, membuat saya teringat dengan buku antologi yang seminggu lalu tuntas saya baca. Saya oerhatikan berulang-ulang, dan akhirnya bertemu satu cerpen yang masuk kategori cerita remaja (cerma). Cerpen berjudul Ratu Siriusku yang ditulis oleh Illa Fadhilah menarik hati untuk mengulasnya. Judul Ratu Siriusku dipilih penulis sebagai pembuka mewakili kisah yang dipaparkannya. Judul tersebut sesuai nama buku antologi yang terpampang di sampul depan, Serupa Bintang Sirius Untukku. Menarik membuat saya sebagai pembaca bertanya-tanya, siapa yang disebut ratu sirius? Kisahnya bagaimana ya? Beberapa pertanyaan itu terlintas begitu saja ketika membaca judulnya. Dari sini penulis sudah berhasil memunculkan rasa penasaran dalam benak pembaca seperti saya. Tema Mengambil tema tentang kasih sayang seorang an...

Pertemuan Para Pejuang Mimpi

Gambar
Pertemuan Para Pejuang Mimpi Oleh Karis Rosida Dulu saya beranggapan bahwa bermimpi sendirian itu asyik tanpa gangguan dari siapapun. Berjalan seorang diri tiada yang mengusik membuat diri bak raja jalanan. Dalam sunyi, mencoba bertahan dengan kekuatan seadanya ternyata tidak cukup. Sakit itu harus dirasakan melalui bungkam, mengunci rapat-rapat agar jauh dari omongan orang. Hampir di penghujung tahun 2019, menjadi titik balik mengais mimpi yang sempat tertinggal jauh di masa lalu. Sehabis resign , di sela fokus menulis, saya kembali ke dunia wirausaha. Masa hibernasi panjang dari bisnis dibutuhkan pemantik untuk menyalakan semangat juang hingga saya memberanikan diri mengikuti program Abangwira (Audisi Pengembangan Wirausaha) yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Kabupaten Blitar. Sungguh merasa asing ke dunia yang beberapa tahun lalu sempat saya jejaki dan sengaja saya tinggalkan begitu saja sebelum menggapai manisnya. Memang hidup adalah pilihan, yang kelak mene...

Ulasan Cerpen Panembahan Podo

Gambar
Ulasan Cerpen "Panembahan Podo" Karya Suden Besayev Oleh Karis Rosida Historical fiction nampaknya jadi momok menakutkan bagi orang-orang awam dalam dunia literasi, khususnya saya. Setelah membaca beberapa cerpen sejarah, akhirnya saya tertatik untuk mengulas cerpen yang berjudul "Panembahan Podo" karya Suden Besayev atau nama aslinya Wakhid Syamsudin yang juga senior di komunitas ODOP ( One Day One Post ) Jujur sebetulnya tugas terkait historial fiction menjadi berat untuk saya yang minim pengetahuan sejarah. Hanya bermodal nekat dan memberanikan diri mengurai cerpen yang sudah apik nan keren ini. Judul Dengan judul "Panembahan Podo", cerpen ini berhasil membuat saya tertarik menelusuri berbagai kata yang asing tertangkap mata. Saya pun mencari arti kata "panembahan" dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Selanjutnya saya begitu penasaran, apa panembahan podo ini murni imajinasi dari penulis atau memang faktanya ada...

Ulasan Buku "Serupa Bintang Sirius Untukku"

Gambar
Ulasan Buku "Serupa Bintang Sirius Untukku" Oleh Karis Rosida Memasuki minggu kedua tantangan Reading Challenge ODOP 6 yang mensyratkan memilih buku bacaan dengan tema non romance , seketika pilihan jatuh ke buku kumpulan cerpen yang belum tuntas saya baca. Buku antologi cerpen berjudul "Serupa Bintang Sirius Untukku" yang ditulis oleh beberapa puluhan penulis dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk saya sendiri. Spesifikasi Judul: Serupa Bintang Sirius Untukku Penulis: Ashya Syifa, dkk Penerbit: Raditeens ISBN: 978-623-7456-08-7 Tahun terbit: 2019 Halaman Cover, Kata Pengantar, Daftar Isi (7 halaman) Isi (247 halaman) Biodata Penulis (18 halaman) Tema Buku antologi cerpen yang sedang saya baca ini bertema tentang Ibu, yang diibaratkan sebagai bintang sirius. Ulasan Tokoh Utama Buku fiksi ini merupakan kumpulan dari tiga puluh cerita pendek dan ditulis oleh penulis yang berbeda-beda. Saya akan coba merangkam seca...

Ulasan Buku Ajaib "Sepatu Terakhir"

Gambar
Ulasan Buku Ajaib "Sepatu Terakhir" Oleh Karis Rosida Pada pekan pertama tantangan Reading Challenge Odop 6 saya memilih buku yang saya anggap berbeda dengan kebanyakan buku di pasaran. Buku berjudul "Sepatu Terakhir" termasuk dalam kategori buku fiksi yaitu novel, akan tetapi penulisnya Toni Tegar Sahidi lebih suka menyebut karya pertamanya ini sebagai fiksi inspiratif. Karena memang kisah yang dituliskan di dalamnya begitu banyak inspirasi yang bisa diambil pembaca. Spesifikasi Judul: Sepatu Terakhir Penulis: Toni Tegar Sahidi Penerbit: Republika ISBN: 978-602-7595-21-7 Cetakan: Ke-1 Tahun Terbit: 2012 Halaman:  Cover, Kata Pengantar, Daftar Isi (16 halaman) Isi (306 halaman) Biodata Penulis (3 halaman) Tema Buku yang tengah saya baca ini bertema tentang keluarga dan perjalanan hidup. Meskipun saya hingga detik ini masih belum berhasil menuntaskan membacanya, namun di separuh jalan saya begitu terkesima dengan kisah yan...

Ulasan Cerpen "Sebuah Perjalanan"

Gambar
Sumber: ngodop.com Ulasan Cerpen "Sebuah Perjalanan" Oleh Karis Rosida Memulai tugas pertama setelah resmi menjadi keluarga ODOP 7 tentang membuat ulasan salah satu cerita pendek di ngodop.com, memaksa saya secara pribadi menaikkan standar kualitas dalam berliterasi. Saya yang masih awam dengan tulisan bergenre fiksi mencoba, menguraikan pandangan subjektif mengenai cerita pendek berjudul "Sebuah Perjalanan" karya Wiwid Nurwidayati yang juga anggota komunitas ODOP ( One Day One Post ). Judul Ketika saya membaca cerpen ini dengan judul "Sebuah Perjalanan" jujur sebetulnya saya kurang begitu tertarik. Bagi saya judul seperti ini terlalu biasa, tidak menghentikan pengunjung website untuk berhenti dan menuntaskan membaca seketika. Padahal kisah yang disuguhkan cukup menarik, banyak pesan moral di dalamnya. Hal yang membuat saya memutuskan untuk membaca pertama kali ialah ilustrasi yang dimunculkan mewakili isi tulisan. Ada bus warna me...

Bunda Anne, Antara Impian dan Idealisme

Gambar
Biografi Anne Heryane Oleh Karis Rosida Berkenalan dengan bunda satu ini membuat diri terpukau dan banyak belajar dari kisah hidup beliau. Saya lebih enak memanggilnya dengan sebutan Bunda. Bernama lengkap Anne Heryane, dengan sapaan Anne atau Neuneu. Sekilas dari nama tentu orang bisa dengan tepat menebak kalau Bunda Anne memiliki darah sunda yang kental dan memang asli kelahiran tanah Paris Van Java yaitu Bandung, di tanggal 22 September 1983, persis seperti tanggal lahir saya dengan tahun berbeda. Sejak kecil dimulai dari TK hingga perguruan tinggi tempatnya menempa ilmu di sekolah formal memang tak lepas dari Kota Bandung. Seakan kota ini jadi magnet untuknya bernafas dan berjalan di kehidupan. Bunda dengan empat bersaudara merasa bahagia dengan keluarganya. Banyak saudara katanya lebih rame, bisa curhat sana-sini dan punya tempat berbagi suka nan duka. Memiliki perpaduan sisi plegmatis dan introver yang tidak begitu suka keramaian membuat diri Bunda Anne begitu u...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 5 End)

Gambar
Aku berjalan lunglai mengekori Bapak tua berpeci, kondisi tubuh masih lemah. Berjalan pelan agak menyeret kedua kaki. Ada semacam dorongan besar nan kuat usai Bapak tua mengajakku mendekat pada Robbi . Ternyata masih ada hati terbuka yang berkenan memberi ketulusan padaku manusia hina ini. Rasa cinta karena kami bersaudara seiman. Baru sekarang diriku merasakan betapa beruntungnya Allah menghadirkan seseorang spesial untukku. Pertemuan yang sesungguhnya diri meyakini bahwa perjalananku hingga ke sini ialah karena campur tangan Tuhan. Ketika Dia berkehendak, maka jadilah! Takdir telah berjalan menuntunku menuju rahmat-Nya. Hati berdebar tatkala memulai salat, semua dosa menampakkan bayangannya di kepala. Meminta diingat, membuat diri merasakan lara menyesakkan dada. " Allahhu akbar ." Air mata seketika jatuh, membasahi wajah yang telah lama menyombongkan diri. Keangkuhan telah bertahun-tahun merajai sukma, mengabaikan Sang Pencipta. Mengalir deras bersamaan...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 4)

Gambar
Gelap bayangan hitam pekat hanya ada dalam pandangan mata. Tubuhku membujur kaku, apa ini yang disebut orang kematian? Entahlah, tiba-tiba waktu seakan berhenti. Sayup-sayup kudengar bacaan merdu ayat suci. Kelopak mata lengket benar, hingga begitu berat membukanya. Mengumpulkan seluruh sisa tenaga sampai akhirnya, berhasil!  Pertama yang tertangkap netra adalah langit-langit ruangan berwarna putih. Segera kucari sumber suara menenangkan itu, kutoleh kanan-kiri dengan pelan. Ada lelaki tua berpeci hitam di sudut ruangan, tengah khusyuk memegang alquran. Sekali lagi mecoba menggerakkan badanku sendiri, sungguh berat dan aku belum mampu menguasai fisik ini. Kerongkongan terasa kering, aku butuh air. Mencoba bersuara, susah seperti seorang anak kecil yang baru belajar bicara. "Hhmmm... Pak!" panggilku lirih ke Bapak tua berpeci hitam. Bapak tua berpeci segera menoleh padaku, lalu menutup kalam Tuhan yang berada di tangannya. Ia mendekatiku. "Ada ap...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 3)

Gambar
Nampaknya uluran kerinduan pada Tuhanku disambut oleh semesta. Sayup terdengar lantunan cinta memanggil melalui suara azan zuhur di tengah hari menyengat seperti ini. Indah, hati bergetar ingin segera bertemu. "Aku mau bicara, menangis di hadapan-Mu Robbi ." Kedua kaki sontak berjalan cepat, seakan ada pendorong yang begitu kuat untuk melangkah menuju rumah Allah. Usai ke luar taman, mata ini disambut dengan keberadaan masjid di seberang jalan. Cukup megah dengan kubahnya warna hijau. Belum banyak jamaah yang datang, kuputuskan segera mencari tempat wudu. Andai menggugurkan dosa semudah membasuh badan dengan air yang menyucikan layaknya wudu, kupastikan jiwaku tidak akan pernah kering dari basahnya air yang menenangkan itu. Namun semua butuh pembuktian, apakah taubatku sebatas ucapan di bibir? Atau jiwa dan hati telah sungguh-sungguh menginginkannya. Aku sendiri belum meyakini maksud kemauan diri yang tengah di hempas kekalutan.  Ketika memasuki masjid suda...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 2)

Gambar
Lelaki panutan dalam hidupku tiba-tiba berminggu-minggu tak pulang usai bertengkar hebat dengan Ibu. Saat itu rumah seakan seperti neraka, keduanya saling teriak, menyalahkan, bahkan makian untuk Ibu tega keluar dari mulut Bapak. Mereka bagai musuh besar yang mustahil bisa akur kembali. Padahal selama tujuh belas tahun aku bernyawa, tidak pernah sekali saja melihat keduanya emosinya memanas. Aku belum bisa memahami sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Permasalahan pelik apa yang membuat kedua orang saling mencintai bisa seketika membenci. Hangatnya cinta berbalik menjadi prahara dalam keluarga. Bapak menghilang entah di mana. Hingga suatu hari kepulangannya di rumah membawa keputuskan untuk berpisah. Bapak memilih hidup bersama perempuan yang lebih muda dibandingkan Ibu.  Bapakku pembohong! Ia begitu pandai memakai topeng sebagai lelaki berwibawa di keluarga. Perlahan sosoknya semakin menjauh dan hilang. Aku membenci semua tentangnya dan cinta, bagiku cinta ha...

Pemburu Bayangan Nabi (Episode 1)

Gambar
Aku tengah berjalan mengikuti jalanan aspal di bawah sengatan ganasnya panas Kota Surabaya. Tempat pelarian usai kutinggalkan rumah tempatku bertahun-tahun hidup. Lebih tepatnya wanita paruh baya yang kupanggil Ibu telah mengusirku agar hengkang dari peraduan ternyaman. Rumah, hunian mendamaikan penuh cinta bagi seorang anak dan itu berlaku sebelum kepergian Bapak. Orang terusir nampaknya menjadi dua kata tepat menggambarkan kondisi nestapa hidupku. Kini aku benar-benar kalut, hati telah berserak tak beraturan dan mustahil kelak kepingannya akan utuh menyatu kembali. "Oh... harus ke mana lagi aku pergi Tuhanku?" jeritku dalam hati. Di kota penuh kesibukan ini tiada satu orang yang kukenal. Sepintas kedua netra menatap satu taman teduh di jantung kota. Tak begitu ramai kelihatannya. Kuputuskan segera masuk kawasan taman, dan pilihanku tertuju pada satu pohon paling tinggi besar yang sekiranya cukup sebagai tempat berteduh.  Segera kudaratkan tubuh duduk...

Menunggu Punah

Gambar
Sumber: Google "Darah muda, darahnya para remaja..." Mayoritas yang membaca pasti sudah mengetahui penggalan lirik dari lagu indah yang dilantunkan Raja Dangdut negeri ini, Rhoma Irama. Suara merdu, cengkok khas yang aduhai meliuk membuat telinga takjub mendengarnya. Lirik lengkapnya dipenuhi dengan semangat juang ala pemuda. Namun ada juga ungkapan: lain dulu, lain lagi sekarang! Pemuda dulu tak sama dengan pemuda sekarang. Benarkah demikian? Memang segala sesuatu akan beradaptasi sesuai zamannya. Pemuda dulu era Bang Rhoma Irama mendendangkan lagu Darah Muda tahun 1977, pasti tidaklah sama kondisinya dengan era sekarang. Bahkan tahun itu saya sendiri juga belum nampak ke permukaan bumi. Saya sebatas menuliskan masa lalu berdasarkan observasi sesaat dari data yang saya temui di dunia maya. Konon pemuda dulu masih identik dengan sifat malu. Kaum populer terbatas hanya artis papan atas ibu kota saja. Sementara di daerah masih minim akses untuk menunjukkan ek...

Apa Kabar Anak Pantai?

Gambar
Tulisan malam ini menjadi bukti bahwa saya masih butuh mengistirahatkan diri di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Tepat tujuh hari lalu saya bersama lima belas teman dari Pare, Kabupaten Kediri menuju Kabupaten Pacitan. Tujuan utamanya mau kondangan pernikahan teman kerja dulu. Tujuan kedua ialah liburan, meski bagi saya cuma punya waktu satu hari atau 24 jam bersama mereka. Tak apa, namanya masih tetap liburan bukan? Perjalanan menuju Pacitan yang berkelok dan naik-turun gunung begitu panjang berjam-jam lamanya, membuat saya tak bisa menuruti kantuk untuk memejamkan mata. Kebiasaan lama saya nampaknya kambuh lagi yaitu tak bisa tidur di sembarang tempat, apalagi saat perjalanan. Beruntung saya terbiasa menulis di mana-mana, paling tidak bisa mengobati kejenuhan yang melanda. Saya anggap satu hari itu ialah dunia fantasi yang bisa dinikmati hanya sekejap. Lalu saya harus terbangun kembali menghadapi dunia nyata. Begitulah realita berjalan, mau tidak mau ia akan te...

Pemburu Bayangan Nabi

Gambar
Oleh Karis Rosida Orang memanggilku pemburu bayangan. Mencoba menyamai, tetapi batasannya sangat jauh bagai tanah dan langit ketujuh. Terlalu naif kala hasrat beradu dengan kenyataan menyakitkan bahwa aku pendosa hebat sebagai umat Nabi. Aku merindu ingin bertemu manusia kekasih Tuhan. " Ummati ... ummati ..." Seruanmu ribuan tahun lamanya telah sampai padaku, Nabi. Namun dulu aku berontak mengkhianati ajaranmu. Sengaja menutup telinga demi menikmati dunia, sepasang mata terbuka menelanjangi kebahagiaan semu. Dimensi ruang yang benar-benar palsu. Aku tertipu! Terus berlari mengejar hidup yang hakiki. Mendaki satu bukit harapan lalu terjerembap menuju jurang kenestapaan. Diriku berlumur kubangan kotor yang disebut dosa. Sangat lengket, sampai bingung bagaimana cara membersihkan? Ambunya amis meninggalkan luka menganga bak nanah yang menguning di sekujur tubuh.  "Aku menyesal, Tuhanku!" Lakuku telah menghitam pekat tak menyisakan sedikit jej...

Si Muka Tembok

Gambar
Sumber: google Hari ini saya kembali mendapat penolakan dari salah satu penerbit. Sebulan lalu ada dua draf naskah nonfiksi yang saya kirimkan untuk mengikuti program penerbit tersebut mencari naskah. Saya yang masih amatir mencoba peruntungan bersaing dengan ratusan naskah yang masuk.  Bisa jadi orang mengira level percaya diri saya terlalu berlebihan atau lebay bahasa kekiniannya. Apalagi saya ialah orang yang baru saja mencicipi dunia menulis, masih setengah meraba sambil berjalan terus menuangkan aksara. Saya tipikal orang yang serba cuek dan keras kepala. Bagi saya tak masalah kalau harus bermuka tembok dengan hasil tulisan ala kadarnya atau bisa dikatakan masih semrawut. Saya sudah terbiasa bersikap begitu. Mental diri ini telah teruji bertahun-tahun. Pengalaman hidup di bidang marketing , training , dan kegagalan yang pernah dirasakan ternyata sungguh menebalkan mental saya. Satu penolakan ke penolakan lain sudah biasa saya dapatkan. Sebagai seorang wirau...

Titik Tempuh Terakhir

Gambar
Roda ini masih setia berputar meraba sepanjang perjalanan tentang jawaban satu tanya panjangku siapa kamu? lelaki yang akan berhasil menaklukkan hatiku Sudah lama hadirmu kunanti di setiap halaan nafasku berat kala teringat sosokmu masih abu buram kumenerawang mengintip takdir Tuhan bahkan rembulan tersenyum terangi kehampaan Salahkah jika aku terus merindu? dirimu penggenap imanku pemimpin masa depan diriku kumenanti menjadi makmum di belakangmu Dayita di mana engkau berada? aksaku buta menatapmu atma melayang memikirkanmu kalbu menginginkan jiwamu Titik belumlah berakhir memanjang meneruskan kisah perjalanan menyisakan koma beserta tanda tanya kapan kita bertemu?

Tutup Buku

Gambar
Sudah lama tema bahasan saya jauh dati hiruk pikuk dunia perpolitikan di tanah air. Namun khusus hari ini, jiwa saya sudah berontak ingin ke luar dari jeruji batasan yang saya terapkan bertahun-tahun. Dulu sewaktu kuliah tak asyik jika belum membahas politik, didukung dengan mata kuliah yang semuanya berbau nasionalisme dan rasa kenegaraan yang tinggi. Jadilah diri ini makhluk yang dituntut melek akan kondisi negara. Namun kemarin saya tengah dalam masa hibernasi panjang. Hari ini ialah momen ketika presiden Jokowi mengumumkan siapa saja orang kompeten yang duduk bersama menjalankan pemerintahan melalui Kabinet Indonesia Maju 2019 - 2024. Ada sejumlah nama-nama yang membuat mata melotot ketika membaca. Wajah baru dimunculkan dalam jajaran menteri. Paling viral yakni CEO dari perusahaan start-up yang dibangun beberapa tahun terakhir yaitu Nadhien Makarim. Menyusul nama pesaing presiden di pemilihan umum selama dua periode berturut-turut, adalah Prabowo. Masih teringat baga...