Menunggu Punah
Sumber: Google
"Darah muda, darahnya para remaja..."
Mayoritas yang membaca pasti sudah mengetahui penggalan lirik dari lagu indah yang dilantunkan Raja Dangdut negeri ini, Rhoma Irama. Suara merdu, cengkok khas yang aduhai meliuk membuat telinga takjub mendengarnya. Lirik lengkapnya dipenuhi dengan semangat juang ala pemuda. Namun ada juga ungkapan: lain dulu, lain lagi sekarang! Pemuda dulu tak sama dengan pemuda sekarang. Benarkah demikian?
Memang segala sesuatu akan beradaptasi sesuai zamannya. Pemuda dulu era Bang Rhoma Irama mendendangkan lagu Darah Muda tahun 1977, pasti tidaklah sama kondisinya dengan era sekarang. Bahkan tahun itu saya sendiri juga belum nampak ke permukaan bumi. Saya sebatas menuliskan masa lalu berdasarkan observasi sesaat dari data yang saya temui di dunia maya.
Konon pemuda dulu masih identik dengan sifat malu. Kaum populer terbatas hanya artis papan atas ibu kota saja. Sementara di daerah masih minim akses untuk menunjukkan eksistensi dan aktualisasi diri. Perjuangan menjadi tokoh publik yang digandrungi masyarakat prosesnya berliku dan butuh durasi waktu yang begitu panjang.
Sekarang semua serba transparan dengan langkah ke depan. Mau terkenal? Buat aja konten viral. Begitu ampuh jagat maya bekerja membombardir mata dan pikiran orang-orang di era milenial. Kesempatan ini nampaknya ditangkap para pemuda pengguna media sosial.
Mereka berlomba mendapat tepuk tangan para peselancar jaringan internet. Bahkan kalau tak kiblat ke mereka tak keren katanya. Budaya mengekori tokoh pujaan menjadi tren yang semakin berkembang. Akan menjadi permasalahan saat idola masa kini memberi karya yang abal-abal juga minim kualitas. Tujuannya demi duit dan viral dengan mengabaikan nilai-nilai luhur yang ada di bumi Indonesia.
Lihat saja yang memenuhi acara televisi di tanah air setiap hari. Apakah artis yang diundang penuh prestasi? Saya pikir banyak yang berkata tidak. Lihat media sosial selebgram bisa dipastikan isinya sebagian ialah mempertontonkan hal-hal yang berseberangan dengan adat yang telah hidup lama di masyarakat. Pamer tubuh nan seksi, kasus heboh yang tak kunjung usai serta deretan perilaku semau gue mereka.
Jika terus-terusan kondisinya sengaja dibiarkan, maka semua efek buruk ada datang perlahan. Jangan sampai nanti kita semua berkata bahwa perilaku pemuda negeri ini sudah tingkat mengkhawatirkan. Tontonan sehat untuk anak yang kelak jadi remaja dan dewasa telah punah di layar kaca maupun dunia maya. Ibarat gunung es yang muncul sekarang ialah sisi kecil dari semua efek terburuknya.
Bagaimana nasib bangsa ke depan? Itu ialah tanggung jawab kita sebagai warga yang mencintai negara sendiri.

Bener banget mbak, yang penuh sensasi yang semakin digandrungi sekarang. Hiksss ....
BalasHapusIya mbak, yg penting viral sekarang ni..
HapusTv juga mentingkan rating daripada kualitas ☹️☹️
Tantangan berat buat orang tua ngedidik anak 🤨