Pemburu Bayangan Nabi (Episode 3)


Nampaknya uluran kerinduan pada Tuhanku disambut oleh semesta. Sayup terdengar lantunan cinta memanggil melalui suara azan zuhur di tengah hari menyengat seperti ini. Indah, hati bergetar ingin segera bertemu.

"Aku mau bicara, menangis di hadapan-Mu Robbi."

Kedua kaki sontak berjalan cepat, seakan ada pendorong yang begitu kuat untuk melangkah menuju rumah Allah. Usai ke luar taman, mata ini disambut dengan keberadaan masjid di seberang jalan. Cukup megah dengan kubahnya warna hijau. Belum banyak jamaah yang datang, kuputuskan segera mencari tempat wudu.
Andai menggugurkan dosa semudah membasuh badan dengan air yang menyucikan layaknya wudu, kupastikan jiwaku tidak akan pernah kering dari basahnya air yang menenangkan itu. Namun semua butuh pembuktian, apakah taubatku sebatas ucapan di bibir? Atau jiwa dan hati telah sungguh-sungguh menginginkannya. Aku sendiri belum meyakini maksud kemauan diri yang tengah di hempas kekalutan. 

Ketika memasuki masjid sudah kutanggalkan kenangan masa lalu sewaktu diri terbelenggu nafsu. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dada, berusaha mengingat kapan terakhir kalinya memasuki rumah suci? Cukup lama menghadirkan memori yang terlanjur usang. Ya, saat usiaku masih belia sekitar kelas 3 SMP sewaktu mendekati ujian nasional. Tujuannya jelas hanya merayu Tuhan demi menyandang kata lulus.

Kini di batas usia 19 tahun aku kembali pada-Mu, Tuhanku. Begitu panjang perjalanan tersesatku, dan dunia telah bertahun-tahun menertawakan kedunguanku. Aku hanya menyeringai mengenang sisi gelap yang tersembunyi rapat sebelum para polisi menjadikanku target operasi penangkapan. Semua keburukan terkuak seketika, rasa malu Ibu yang memaksaku ke luar dari rumah.

"Pergi kau, berandal edan!" kata Ibu. 

Mendengar makian menusuk dari wanita yang melahirkanku hanya bisa terdiam. Menunduk, menahan amarah yang memuncak. Tak butuh waktu lama berpikir, kuputuskan menuruti perintahnya. Akan kubuktikan bahwa aku bisa hidup tanpanya. Segera kukemasi pakaian dan memasukkan ke dalam tas ransel warna hitam. Tak ada barang berharga yang kubawa, bagiku segala hal yang berbau rumah kelak akan menjadi penghambat untuk maju menata masa depan.

Aku pergi tanpa sanggup menatap wajah wanita paruh baya itu. Tanpa kata dan suara. Langkah kaki mantap menapaki dunia luar, menyambut kebebasan. Namun Tuhan memang ahlinya membuat skenario hidup. Pelarianku dari buruan polisi, singgah dari satu kota ke kota lain membuatku jadi pesakitan. Uang hasil narkotika, prostitusi dari tempat asalku kian menipis hingga mengantarkanku ke kota besar nan panas ini.

Belum juga memulai salat, tiba-tiba kepala terasa berputar, tubuh menggigil, perut ingin mengeluarkan seluruh isinnya. Lalu bayangan Bapak, Ibu, dan para polisi datang menakutkan, aku tengah berhalusinasi. 

"Sial! Sakau, kenapa kau datang sekarang?" umpatku dalam hati.

Seketika aku berjalan terhuyung menuju toilet, harga diri masih terjaga untuk tidak mengotori rumah suci ini. Sesampai di dalam toilet, segera kukunci, dan tubuhku tak terkendali. Sakit, sekujur tubuh merasakan lara bertubi-tubi. Aku meraung, badan terhempas di lantai, lalu kesadaranku perlahan menghilang.


🔜🔜

#ODOPBatch7
#TantanganPekan8
#Tantangan1Episode3

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tahun Terakhir

Perbedaan Versi Sharon Creech

Wisata Aneh di Dunia