Pemburu Bayangan Nabi
Oleh Karis Rosida
Orang memanggilku pemburu bayangan. Mencoba menyamai, tetapi batasannya sangat jauh bagai tanah dan langit ketujuh. Terlalu naif kala hasrat beradu dengan kenyataan menyakitkan bahwa aku pendosa hebat sebagai umat Nabi. Aku merindu ingin bertemu manusia kekasih Tuhan.
"Ummati... ummati..."
Seruanmu ribuan tahun lamanya telah sampai padaku, Nabi. Namun dulu aku berontak mengkhianati ajaranmu. Sengaja menutup telinga demi menikmati dunia, sepasang mata terbuka menelanjangi kebahagiaan semu. Dimensi ruang yang benar-benar palsu. Aku tertipu!
Terus berlari mengejar hidup yang hakiki. Mendaki satu bukit harapan lalu terjerembap menuju jurang kenestapaan. Diriku berlumur kubangan kotor yang disebut dosa. Sangat lengket, sampai bingung bagaimana cara membersihkan? Ambunya amis meninggalkan luka menganga bak nanah yang menguning di sekujur tubuh.
"Aku menyesal, Tuhanku!"
Lakuku telah menghitam pekat tak menyisakan sedikit jejak yang terang. Gelap telah lama menyelimuti awan di atas kepala ini. Menahan gemuruh balasan murkanya Engkau padaku, Tuhan.
***
Memberanikan diri bertanya pada orang-orang alim.
"Bagaimana aku bisa menebus dosa yang sudah menyerupai samudra?"
"Kau hanya perlu pulang! Kembali mendekati Tuhan," katanya.
Satu, dua, tiga, semua yang kutemui menjawab dengan kalimat sama. Aku buntu dan bertemu ragu. Akankah Tuhan masih mau menerimaku?
Entahlah, pikiranku tidak sampai menjangkaunya. Andai hidup semudah berjalan di kawasan tol, yang aspalnya mulus tak ada tanjakan terjal dan lubang besar penuh tipuan. Pasti umat ini sudah membuat surga penuh sesak. Neraka sepi tak berpenghuni.
Nyatanya tidak begitu. Ada nasfu yang selalu berusaha menjatuhkan, membisikkan kata-kata indah, memabukkan para penikmat dunia sepertiku. Naluri manusiawi begitu kuat bagai lem yang mengikat, mengikuti setiap langkah gerak kakiku. Bagaimana bisa mendekati Tuhan? Jika yang terjadi aku terus berjibaku melawan sisi kelam diri.
Sementara bau tak sedap dari luka yang menganga terus-terusan menguar sampai terendus tetangga kanan-kiri. Mereka sibuk mencari dan memaki pemilik ambu anyir yang tak lain adalah aku. Hujatan nan makian keras dilemparkan padaku setiap hari, bahkan mereka buta dengan waktu. Hingga sampai pada satu titik kuputuskan untuk pergi, menyudahi segala hal tak enak yang menimpaku selama ini.
Tanganku kosong, harta yang kudapat dengan menyalahi ajaran Tuhan sudah kutinggalkan. Kini aku berjalan dengan kedua kaki menapaki jalanan sunyi. Sepi tak ada orang yang berjalan di samping, depan dan di belakangku. Namun sungguh aku tak benar-benar sendiri.
Kulantunkan selawat cinta untukmu Nabi, manusia terbaik pujaan hatiku kini. Berharap para malaikat mau mencatat apa saja ucapan dan segala kebaikan yang tengah kulakukan. Aku merindu kekasih Tuhan. Perjuangan ini masih baru dimulai, begitu berat sampai membuatku di ambang sekarat. Aku masih bertahan tetap berada di jalur kanan. Jalan baik yang diridai Tuhan, sampai kapan? Semoga sampai aku pulang di batas terakhir kehidupan.
#OdopBatch7
#TantanganPekan7

ma syaa Allah mba Karis...ini mah bagus pakek banget, aku ikutan mbrebes mili...cerita pertaubatan seseorang selalu bikin trenyuh hati.
BalasHapusini macam puisi yang dituliskan melalui gaya bercerita. kereeennn
Makasih mbak,, masih belajar ini 😁😁
HapusProlis ya, Mbak ini. Keren, bikin larut menikmati tulisannya.
BalasHapusHaduhh aku belum keren bund 😂😂
HapusKok sedih ya.. 😢, keren!
BalasHapusMakasih... Bunda juga keren bingittt 😘
Hapus