Pilihan Cinta Dewi Songgo Langit
Adakah cinta yang sebenar-benarnya cinta seperti cinta manusia pada pemilik semesta. Meski berbeda posisi antara pencipta dan makhluk ciptaan-Nya, akan tetapi esensinya tetap sama bernama cinta. Sungguh mengherankan ketika manusia seringkali mengabaikan kasih sayang tulus Sang Pencipta dan lebih memilih wujud semu makhluk. Sungguh rapuh, mudah goyah ketika terpaan angin kencang menguji kekuatannya. Apakah nafsu ingin memiliki sanggup mengalahkan naluri kebaikan? Dan ketika nafsu mengendalikan, maka semua akan terburai bagaikan kepingan kaca yang sudah pecah, hancur berantakan.
***
Didapati ada seorang putri kerajaan dari Kerajaan Panjalu atau biasa disebut Kediri yang tengah murung sudah berhari-hari. Bayangan gelap seakan menyelimuti dirinya. Senyum sumringah yang biasa ditampilkan menghiasi wajah ayu berangsur menghilang. Kata-kata sang ayah yakni Raja Airlangga terus berputar memenuhi isi kepalanya. Desakan Raja Airlangga untuk putrinya segera menikah berhasil membuat Dewi Songgo Langit tidak bisa tenang memejamkan kedua matanya. Dia benar-benar bimbang menentukan sebuah keputusan besar dalam hidupnya.
"Sudah tak terhitung lagi berapa kesatria sakti dan berilmu tinggi yang sudah engkau tolak pinangannya putriku," ujar Raja Airlangga waktu itu.
"Mohon maaf ayahanda, bukan bermaksud menunda-nunda keinginan rakyat untuk segera memiliki pewaris kerajaan ini. Namun, semua yang sudah datang belum ada yang sanggup menggetarkan cinta dalam hati hamba." jawab Dewi Songgo Langit dengan kepala tertunduk. Tak sedikitpun dia berani menatap sang ayah.
"Tapi mau sampai kapan adinda terus menunda? Pernikahan itu sesungguhnya bukan hanya demi kebaikan kerajaan, namun juga kebaikan untuk persembahan ke Sang Hyang Widhi." balas Raja Airlangga mendesak putrinya untuk segera mengambil keputusan.
Sementara sang putri Dewi Songgo Langit terdiam sesaat mendengar perkataan ayahanda barusan. Dia berpikir jawaban apa yang tepat diberikan ke ayahanda saat ini. Dia juga tak mau menyakiti perasaan tulus ayahnya. Akhirnya dia angkat bicara.
"Baiklah ayahanda, hamba akan menikah tapi dengan satu syarat?" pinta Dewi Songgo Langit.
"Apa syarat yang kau minta ananda?" tanya Raja Airlangga.
"Hamba memohon barang siapa yang hendak menikahi hamba, maka dia harus bisa membuat satu kesenian yang belum pernah ada di Pulau Jawa ini." kata Dewi Songgo Langit.
"Baiklah kalau itu maumu, akan segera kuperintahkan para prajurit untuk menyebarkan kabar baik ini ke seluruh penjuru kerajaan di tanah Jawa. Semoga Sang Hyang Widhi berkenan membantu niat baik darimu ananda."
Keputusan berat telah diambil Dewi Songgo Langit. Perihal menikah tentu akan menjadi peristiwa sejarah yang dinanti rakyat Kediri. Semua berkaitan dengan pewaris tahta kerajaan. Dan rakyat mana yang tidak tunduk pada kuasa raja. Meskipun Raja Airlangga adalah ayahnya, dia juga tak mau dianggap anak durhaka yang membangkang kemauan orang tua.
Esoknya diperintahkanlah prajurit kerajaan untuk menyebarkan kabar gembira itu ke seluruh Pulau Jawa. Dengan selebaran berbunyi sayembara, kabar pernikahan Dewi Songgo Langit mencari pendamping beredar. Syarat yang dirasa berat bagi sebagian orang, tentu bukan sembarangan orang yang berani menerima tantangan ini. Dibutuhkan seseorang dengan ilmu yang mumpuni dan jiwa seni tinggi. Hingga beberapa purnama belum ada seorangpun dengan gagah berani menawarkan diri.
***
Di tempat lain kabar sayembara terdengar sampai ke telinga para kesatria yaitu Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus utusan Singo Barong dari Blitar, Kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan empat prajurit yang berasal dari Blitar. Semuanya bertekad menjajal kemampuan diri menjawab tantangan dari Dewi Songgo Langit. Maka berangkatlah para kesatria tersebut dari asalnya masing-masing.
Saat di perjalanan menuju Kerajaan Panjalu satu per satu pemuda pemberani itu bertemu. Jiwa mereka bergejolak ketika saling mengetahui maksud tujuan mereka yang sama. Akhirnya pertarungan tak terelakkan. Saling baku hantam, mengeluarkan jurus pamungkas andalan, dan tubuh perkasa bertumbangan hingga tersisa satu diantara mereka yang terkuat dengan ilmu tingginya yaitu Klono Sewandono atau Pujangganom.
Pada pertempuran terakhir ketika mengalahkan Singo Ludoyo, rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom menyepakati permintaan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring arak-arak pernikahannya kelak dengan Dewi Sanggo Langit.
Kemenangan Pujangganom dari pertempuran sengit demi mempersunting putri Kerajaan Kediri sampai terdengar oleh Dewi Songgo Langit melalui prajurit pengawal pribadinya. Esok Pujangganom sudah sampai di kerajaan dan hati Dewi Songgo Langit berdebar memikirkan jawaban yang tepat. Ia akan melakoni tapa semalaman untuk meminta bantuan Sang Hyang Widhi. Berharap jawaban yang didapatkan membawa kebaikan untuk keberlangsungan kerajaan.
"Gusti malam ini berikanlah hamba kekuatan hati untuk memilih," ucap Dewi Songgo Langit dalam hati.
***
Paginya Raja Airlangga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan ksatria istimewa dari Wengker bernama Pujangganom yang akan mempersunting putrinya. Seisi kerajaan disibukkan dengan perintah raja untuk menata setiap sudut istana dengan apik. Siapa yang meyangka bahwa ksatria pemberani itu berasal dari luar Kediri. Kekuatan ilmu dan keperkasaannya telah teruji. Pantas jika raja bahagia menyambutnya dengan sangat istimewa.
Sementara kerajaan tengah sibuk, Dewi Songgo Langit di dalam kamarnya duduk terdiam. Berkali-kali ia menghela nafas panjang menyadari pilihan berat yang akan diambilnya nanti. Ada satu jawaban yang sudah mantap akan diberikannya untuk Pujangganom. Setelah sekian lama menanti, ada satu orang istimewa yang mau menerima tantangan yang diberikannya. Di sisi lain memang ada rasa penasaran dengan sosok ksatria dari Wengker itu. Namun, ia harus berpikir jernih untuk urusan pernikahannya, sebab menikah adalah proses lama sepanjang hidup. Dibutuhkan tidak sekedar wajah rupawan, atau ucapan cinta saja.
Dewi Songgo Langit beranjak dari kamarnya. Sesaat sebelumnya ada prajurit utusan raja yang mengabarkan bahwa Raja Airlangga memintanya segera menuju aula untuk bertemu Pujangganom. Ada getaran dalam hati yang tersembunyi dibalik wajah ayu nan rupawannya, kakinya sedikit bergetar kala berjalan. Entah kenapa urusan pernikahan bisa membuat dirinya begitu gusar hingga harus meminta kekuatan dari Sang Penguasa semesta.
Sesampai di aula Dewi Songgo Langit segera duduk di kursi singgasana yang berada tepat di samping ayahanda Raja Airlangga. Pelan-pelan ia menatap kesatria yang sedang duduk membungkuk memberi salam penghormatan padanya. Ketika Pujangganom menegakkan kembali badannya, sejenak kedua pasang mata Dewi Songgo Langit dan Pujangganom beradu saling menatap.
Pujangganom begitu terkesima memandang kecantikan Dewi Songgo Langit, hingga matanya tak sanggup berkedip. Ada senyum mengembang di bibirnya pertanda kagum dengan sosok wanita yang akan dipersuntingnya. Kabar kecantikan Dewi Songgo Langit memang bukan bualan, belum pernah ia bertemu wanita secantik ini, pahatan keindahannya begitu sempurna. Pantas saja hingga detik ini belum ada lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya. Bahkan sayembara yang dibuat juga begitu berat dijalankan oleh Pujangganom.
"Apa maksud kedatanganmu ke sini kisanak?" tanya Raja Airlangga membuyarkan lamunan Pujangganom.
"Hamba Klono Sewandono atau orang biasa memanggil Pujangganom, maksud kedatangan saya ke mari tidak lain untuk mempersunting putri Kerajaan Panjalu Dewi Songgo Langit," kata Pujangganom dengan penuh wibawa.
"Baiklah kalau itu maksudmu, apa kau sudah tahu syarat yang diajukan putri Dewi Songgo Langit?" tanya Raja Airlangga.
"Sudah baginda raja, hamba sudah mengetahui syaratnya jika ingin mempersunting putri Dewi Songgo Langit maka harus sanggup menciptakan kesenian yang belum pernah ada di Pulau Jawa ini." jawab Pujangganom.
"Bagus jika kisanak sudah tahu, kalau begitu kesenian apa yang engkau akan berikan untuk jawaban syaratnya?"
"Hamba ingin nanti saat menikah, putri Dewi Songgo Langit akan hamba boyong ke Wengker. Perjalanan ke sana dibarengi iring-iringan manten oleh jaran-jaran yang berjejer melewati bawah tanah disertai alunan alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Hamba yakin yang saya utarakan ini belum pernah ada di Pulau Jawa." tutur Pujanganom dengan penuh percaya diri.
Raja Airlangga terdiam berpikir apakah benar yang diutarakan ksatria di hadapannya ini memang belum pernah terjadi di seluruh penjuru Pulau Jawa. Di sisi lain Dewi Songgo Langit sejak tadi tidak mengeluarkan sepatah kata, ia begitu tenang menghadapi. Lalu ia mulai berbicara.
"Baginda raja, izinkan hamba berbicara dan mohon maaf jika hamba sebagai putri begitu lancang. Hamba sudah memahami maksud dari kisanak Pujangganom datang ke mari untuk mempersunting saya dengan memenuhi syarat yang sudah hamba ajukan." kata Dewi Songgo Langit memulai pembicaraan. Sejenak ia mengambil jeda untuk kemudian melanjutkan perkataan.
"Memang engkau sudah berhasil kisanak," lanjutnya.
Mendengar ucapan pujaan hatinya Pujangganom tidak merasakan tegang seperti sebelumnya. Ada pancaran kebahagiaan, tatapan mata penuh dengan cinta ditujukan ke Dewi Songgo Langit.
"Akan tetapi ada satu hal yang sudah kisanak lewatkan," ucap Dewi Songgo Langit. Seketika tatapan cinta Pujangganom kembali meredup dengan mengerutkan dahinya.
"Apa maksud putri dengan berkata demikian?" tanya Pujangganom heran. "Bukannya satu-satunya syarat sudah hamba penuhi sesuai dengan kabar sayembara yang diberitakan para prajurit Kerajaan Panjalu?"
"Engkau memang benar kisanak Pujangganom, namun saya tetap tidak bisa menerima pinangan kisanak," jawab Dewi Songgo Langit dengan keyakinan. "Apakah disebut cinta jika cara mendapatkannya melalui pertumpahan darah sesama manusia? Apa Sang Hyang Widhi mau menerima wujud cinta jika jalannya ditempuh dengan mengorbankan nyawa? Bagi saya tidak! Itu bukan cinta, hanya nafsu yang berbalut kebahagiaan palsu."
"Apa maksud putri? Hamba sudah susah payah melawan para kesatria tangguh di luar sana, tapi ternyata hanya mendapat penolakan yang sangat menyakitkan seperti ini. Mohon kebajikan dari baginda raja," pinta Pujangganom merajuk kepada Raja Airlangga.
"Putriku, apa ananda sudah yakin dengan pilihanmu menolak kesatria Pujangganom?" tanya Raja Airlangga untuk meminta kepastian putrinya.
"Mohon maaf baginda raja, ini sudah keputusan akhir hamba." jawab Dewi Songgo Langit dengan hati mantap.
"Sebagai raja, mengenai jawaban sudah kuserahkan pada putriku. Maaf kisanak begitulah jawaban yang ada." lanjut Raja Airlangga menjelaskan.
"Baik jika memang itu sudah keputusan akhir dan sampai kapanpun hamba tidak bisa menerimanya. Jangan salahkan hamba bila usai kepulangan hamba di Wengker akan ada kekacauan, perang di berbagai wilayah Kerajaan Panjalu. Ingatlah ini adalah sumpahku! Hamba undur diri." kata Pujangganom mengakhiri pembicaraan.
Ada dendam dalam hati Pujangganom, dan rasa tidak terima dengan keputusan Dewi Songgo Langit. Pujangganom pulang dengan tangan kosong setelah perjalanan panjang dan sangat melelahkan melawan para kesatria yang punya cita-cita sama. Dendam Pujangganom kian membara, benar saja sejak penolakan itu, tak menunggu waktu lama terjadi peperangan di wilayah Kerajaan Panjalu atau Kediri. Otak pelakunya tak lain ialah Pujangganom yang dipenuhi sakit hati.
🧕 Oleh Karis Rosida
___________
Cerita yang saya tulis ini adalah berlatar asal usul kebudayaan Jaranan di Blitar, Kediri, serta Reog di Ponorogo. Dengan improvisasi di alur dan sudah diubah ending-nya untuk mengikuti tantangan pekan ke-4 ODOP Batch 7.
Sekilas lihat fotonya, saya kira patung Dewi Sekartaji tadi
BalasHapusDapatnya dari internet itu sih mbak kl Dewi Songgo Langit 😁
HapusDewi songgo langit atau dewi kilisuci yang memilih menjadi pertapa dan tidak menikah
Hapus