Belokan Takdir
Belokan Takdir
Oleh Karis Rosida
Oleh Karis Rosida
Cinta pertama! Bagiku sudah lenyap tertelan gulungan waktu, tergerus bersama hati yang telah remuk berkali-kali. Jika banyak anak perempuan di luar sana menganggap ayah sebagai cinta pertamanya, terkesima melihat gagah dan tangguh lelaki pertama yang ditemuinya di dunia, hal ini tak berlaku untukku. Ayahku sudah gagal menjadi cinta pertamaku, dan waktu tidak akan pernah berulang kembali ke masa lalu yang tertinggal.
Ketika usiaku sepuluh tahun di pojok kamar petak, Aku bersama adik perempuanku Naila duduk gemetar. Naila kudekap dengan tubuhku yang bergejolak mendengar makian, adu mulut dari dua orang dekatku. Ya, suara itu berasal dari kedua orang tuaku Ayah dan Ibu. Sudah sekitar satu minggu ini kerap kudengar suara mereka meninggi. Aku si sulung harus berperan sebagai tempat yang yang menenangkan bagi adikku Naila. Selisih kami berdua tak jauh, Naila waktu itu usianya tujuh tahun dan sudah masuk tahun pertama di SD.
Seminggu ini membuatku jengah, hatiku sudah bosan dan ingin berontak menjadi korban teriakan berisik Ayah dan Ibu. Aku tidak memahami apa masalah orang dewasa bisa semudah itu bertengkar hebat, tanpa peduli ada dua anak perempuan kecil menggigil takut, telinga kami menangkap suara keras dan otak terus berjalan merekam tiap detik kejadiannya. Kelak akan membekas permanen bagai tusukan paku yang tertinggal, membuat lubang dan menghadirkan luka yang terbawa hingga dewasa bahkan menua. Jiwa pemberaniku berontak memberi sinyal kalau aku harus bergerak. Amarahku sudah sampai di ubun-ubun, tak kuasa lagi kutahan. Keberanian ini telah mendobrak rasa takutku.
"Naila tunggu di sini ya, Kakak mau ke luar sebentar," ucapku sambil mengelus rumbut pendeknya. Kuusap perlahan pipinya yang basah.
"Naila harus kuat, jangan nangis lagi," kataku lirih sambil kupegang kedua pundaknya. Ini upaya terakhir untuk menenangkan adik kecilku. Pelan-pelah kuberdiri, berjalan ke luar kamar meninggalkan Naila. Kucari sumber suara keras itu, ternyata ada di dapur.
"Prangggg!!" terdengar suara pecahan, entah piring atau apa aku tak tahu. Masa bodoh dan sialnya suara barusan membuat kakiku sedikit gemetar. Ada isakan, Ibu menangis. Semakin kupercepat langkah ke dapur, dari kejauhan Aku melihat dua orang yang masih tersulut amarah. Ibu duduk terisak dengan rambut terkucir berantakan. Sedang Ayah berdiri membelakangi Ibu. Kulihat pecahan beling berserak di lantai warna putih ini. Ayah kembali bersuara.
"Sudah Ayah bilang berkali-kali ini salah Ibu, Ibu yang bikin emosiku begini."
"Ayah juga jadi pemimpin tak becus, malah pilih perempuan itu."
Mereka berdua tak menyadari ada sepasang mata kecilku memperhatikan tiap potongan adegan yang dipertontonkan. Aku makin geram mendengar semua terikan ini, rahang kurapatkan menahan emosi terpendam. Sudah cukup! Ayo dua kakiku kamu kuat berjalan ke sana. Kupercepat langkah menghampiri mereka berdua. Nafasku tersengal, aku seperti kerasukan setan sudah kalap.
"Diammmm!!!" teriakku. Hanya itu kata pertama yang sanggup ke luar dari bibir mungilku. Nafasku sudah semakin tak beraturan. Ayah dan Ibu seketika menoleh ke arahku. Ibu mendekati dan meraih pundakku. Tapi Aku mundur, melepaskan pegangan tangannya. Sudah cukup Aku jadi korban mereka. Entah ada dorongan apa dan seketika aku berlari menjauhi rumah penuh keributan ini. Kudengar teriakan Ayah dan Ibu memanggil namaku. Tapi kakiku justru semakin cepat berlari, kuabaikan suara mereka. Aku menuju sungai dekat rumah, pinggiran sungai kecil ini ada rerumputan yang luasnya skitar dua meter. Aku duduk di situ, lemas, tenagaku seakan terkuras dengan aksi yang kulakukan barusan. Kupandangi aliran sungai ini, airnya begitu bening membuat hatiku semakin tenang. Aku ingin mendadak lupa ingatan detik itu, namun Tuhan tak mengabulkannya.
Kubaringkan tubuh di atas rerumputan hijau, menatap langit biru dengan hiasan arakan awan putihnya. Aku lelah dan perlahan memejamkan mata. Tertidur. Saat itu berharap tidur sanggup membawaku terlelap, melayang bersama impian dan aku tak mau terbangun melihat duniaku yang sudah penuh sesak. Hari itu sosok Ayah perlahan menjauh, rasa kagum dan sayang kian menghilang. Setelah pertengkaran hebat itu, Ayah memilih pergi meninggalkan rumah. Cintanya pada perempuan yang lebih muda dibandingkan Ibu ternyata lebih besar. Ia sudah mengabaikan Ibu yang telah setia menemaninya dari nol. Di usiaku yang ke-10 sosok Ayah telah terdepak dari hatiku, pintu ini sudah kututup rapat dan aku enggan membukanya kembali.
***
Tapi takdir memang ahlinya membelokkan hati yang telah lurus puluhan tahun lamanya. Kini aku tengah bimbang, hatiku kalut. Akad nikah yang akan berlangsung tentu membutuhkan kehadiran Ayah sebagai lelaki yang secara biologis, sah di mata hukum negara dan agama diakui sebagai ayah kandungku. Dua puluh tahun lamanya Aku sengaja menutup pintu maafku, beberapa kali Ayah berusaha menghubungi namun selalu kutepis. Aku belum ikhlas, rasa benci masih merajai hati yang telah ia sakiti.
Berbeda dengan Ibu, begitu mulianya hati wanita yang telah melahirkanku. Merelakan seorang yang paling dicintainya pergi menjadi milik orang lain. Aku belum bisa seperti Ibu. Ikhlas ialah hal yang tersulit bagiku dan aku masih mengingat sesakit apa hatiku kala kecil dulu meski sudah terlewat 20 tahun lamanya.
"Kakak harus ikhlas, kadang seseorang yang kita cintai memang tak bisa dipaksa menetap bersama. Begitulah hidup, tidak ada yang tau bagaimana jalannya masa depan."
Aku makin tertegun mendengar ucapan Ibu di malam sebelum akad pernikahanku. Aku akan mencoba ikhlas walau hati ini masih tertahan rasa tak terima dengan luka yang tergores begitu mudahnya.
Hari yang kutunggu telah tiba, pernikahan. Jatung berdebar sejak semalam, tak bisa memejamkan mata membayangkan hari besarku. Aku was-was, akankah Ayah datang? Bersedia menggenggam tangan lelaki baru yang akan mengucap janji menghabiskan hidup bersamaku. Ayah membuatku khawatir, jatung berdetak tak karuan, waktu sudah mepet dan penghulu juga sudah tiba. Setelah beberapa menit berlalu, lelaki yang kunanti datang. Ayah dengan garis-garis menua di wajahnya, rambutnya sudah banyak yang memutih. Segera Ayah duduk di samping calon suamiku, dengan gagah menyerahkanku pada lelaki yang belum dikenalnya.
"Sahhh!!!!"
Riuh teriakan orang-orang yang berkumpul di akad yang sakral ini. Aku ingin segera mendekati ayahku. Saat berhadapan dengan Ayah, aku hanya bisa menangis. Perasaanku bercampur terlarut menjadi buliran-buliran bening mengalir di pipi. Kupegang tangannya, kusalami penuh takzim. Ayah merangkul pundakku dan memelukku lama. Ia membisikkan sesuatu padaku.
"Maafkan Ayah, belum bisa menjadi Ayah yang baik untukmu," ucapnya lirih.
"Nggak apa-apa Ayah, Aku sudah ikhlas. Maafkan Kakak juga," balasku dan perlahan kami saling melepas. Kulihat di sudut mata Ayah ada butiran air bening yang siap menetes. Ayah segera mengusapnya.
"Terimakasih Ayah sudah bersedia datang."
Aku tetap mencintai Ayah, walau kami pernah saling menyakiti. Dialah cinta pertama yang tak pernah aku lupa.

Assalamu'alaikum, kak
BalasHapusMohon maaf, aku izin menyampaikan kritik dan saran 😊
Ceritanya sudah bagus kok, penulisannya juga lumayan rapi, tapi mungkin yang sedikit mengganggu ada beberapa kata yang typo.
Jadi saran aku lebih diperhatikan lagi, sebelum dipost diusahakan dibaca ulang agar bisa menyadari letak ke-typo-an itu 😁
Karena aku juga sering gitu kak, typo, tapi aku tuh suka banget baca ulang karena kadang juga kurang pede jadi aku baca lagi dan alhamdulillah kesalahannya segera kusadari 😃
Walaupun keliatannya sepele tapi menurutku itu cukup mengganggu 😁
Mungkin cuma segini sih kritik dan sarannya karena skill aku juga masih biasa-biasa aja dan tiba-tiba disuruh mengkritik hehe, tapi alhamdulillah bisa sambil belajar juga 😄
Okee siappp kakak 😉😉
HapusAku malah sukaa kalau ada yang kasih krisan gitu.
Terima kasih 🙏😊
Selamat pagi .
BalasHapusHallo kakak ceritanya sudah bagus kok. Iya seperti kakak diatas katakan sebelumnya sebelum diupload dilirik lirik dulu mana yang kelihatan kurang tepat dan perlu ditambahi. Semangat terus menulisnya kak. Dan saran saya buatlah tulisan kita lebih menarik. Terimakasih